
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Pertemuan tahunan IMF dan World Bank di Bangkok menjadi sorotan pasar global karena berlangsung di tengah tekanan geopolitik, harga energi yang tinggi, kenaikan utang pemerintah, serta ketidakpastian pasar keuangan. IMF menilai konflik Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan energi menjadi salah satu risiko utama terhadap perekonomian global.
Selain risiko energi, IMF juga menyoroti tingginya utang pemerintah dan kenaikan imbal hasil obligasi yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap keuangan negara. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena biaya pendanaan yang lebih mahal dapat mempersempit ruang fiskal sekaligus meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasar keuangan global.
Dari kawasan Asia, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 4,8% pada 2026 dan 4,4% pada 2027, dari 5% pada 2025. Tekanan tersebut terutama berasal dari kenaikan biaya energi, kebijakan moneter global yang lebih ketat, serta potensi koreksi investasi di sektor kecerdasan buatan atau AI.
Di sisi lain, perkembangan AI masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi sejumlah negara. Namun, IMF mengingatkan bahwa optimisme terhadap AI juga membawa risiko apabila ekspektasi investasi dan keuntungan perusahaan tidak sesuai dengan kenyataan. Koreksi pada aset terkait AI berpotensi merambat ke pasar keuangan yang lebih luas.(CP)