
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Iran dilaporkan mengubah strategi militernya dengan meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November mendatang. Langkah tersebut diduga bertujuan mempertahankan harga minyak dunia tetap tinggi sekaligus memberikan tekanan politik dan ekonomi terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump. Dua pejabat senior Iran mengungkapkan bahwa strategi baru tersebut mulai diterapkan sekitar 10 hari lalu, dengan perubahan pola serta intensitas serangan terhadap kapal yang dianggap melanggar pembatasan pelayaran Iran.
Selat Hormuz menjadi pusat ketegangan sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Sebelum konflik berlangsung, jalur strategis tersebut menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Iran kini berupaya memperketat kendali atas jalur pelayaran tersebut dengan meningkatkan ancaman terhadap kapal komersial. Dalam 48 jam terakhir, sedikitnya lima insiden keamanan dilaporkan terjadi di sekitar Selat Hormuz, termasuk serangan drone terhadap kapal tanker dan kapal dagang. Kondisi ini semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan distribusi energi global.
Perubahan strategi Iran juga terlihat dari penggunaan kapal kecil untuk melakukan pengintaian terhadap target potensial setelah sebagian besar kemampuan radar militernya mengalami kerusakan akibat serangan Amerika Serikat. Selain meningkatkan frekuensi serangan, Iran dilaporkan memperluas jangkauan operasinya hingga Teluk Oman serta perairan dekat Qatar dan Uni Emirat Arab. Sejumlah pejabat Iran bahkan memperingatkan kemungkinan penutupan penuh Selat Hormuz bagi kapal yang tidak mematuhi aturan pelayaran yang ditetapkan Teheran. Ancaman tersebut memperbesar ketidakpastian pasar karena gangguan pengiriman minyak dapat meningkatkan biaya transportasi, asuransi, serta harga energi internasional.
Ke depan, meningkatnya agresivitas Iran berpotensi memperpanjang tekanan terhadap pasar energi global, terutama menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Harga minyak yang tetap tinggi dapat memperkuat tekanan inflasi dan mempersulit upaya Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga. Sementara itu, pemerintahan Trump menghadapi tantangan untuk menjaga stabilitas harga energi tanpa memperbesar konflik militer di Timur Tengah. Jika ketegangan terus meningkat dan aktivitas pelayaran semakin terganggu, harga minyak berpeluang melanjutkan penguatan, sementara pasar keuangan global berpotensi menghadapi volatilitas yang lebih tinggi.(CP)