
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Amerika Serikat kembali memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah individu, jaringan, serta 17 kapal yang dituding terlibat dalam pengangkutan minyak mentah, produk minyak, dan petrokimia Iran. Departemen Keuangan AS menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari “Operation Economic Outcast”, yang bertujuan memangkas sumber pendanaan Iran untuk perang, pengembangan rudal, serangan siber, serta aktivitas Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Departemen Keuangan AS menyebut langkah terbaru tersebut sebagai salah satu pukulan terbesar terhadap infrastruktur maritim ilegal Iran. Washington menargetkan apa yang disebut sebagai shadow fleet, yaitu jaringan kapal yang digunakan untuk mengangkut minyak Iran di luar jalur perdagangan resmi. Pemerintah AS menilai langkah tersebut dapat mempersempit sumber pendapatan ilegal Teheran sekaligus meningkatkan tekanan internasional terhadap Iran.
Tekanan terhadap sektor minyak Iran semakin besar setelah AS kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran pada 14 Juli, menyusul gagalnya kesepahaman antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang. Departemen Keuangan AS memperkirakan Iran hanya memiliki sekitar 20 juta barel minyak mentah yang masih berada di kapal di luar area blokade, terutama di sekitar Singapura, Malaysia, dan China. Sebagai perbandingan, konsumsi minyak dunia mencapai sekitar 100 juta barel per hari.
Namun, dampak langsung terhadap pasokan global dinilai masih terbatas. Seorang pejabat Departemen Keuangan AS mengatakan Iran telah menghentikan aktivitas pemuatan dan pembongkaran minyak akibat blokade dan sanksi. Di sisi lain, analis menilai sebagian besar minyak Iran telah lebih dulu dikirim sehingga sanksi terhadap kapal-kapal tersebut kemungkinan tidak langsung menciptakan gangguan pasokan besar di pasar global.
Analisis Newsmaker:
Sanksi terbaru AS tetap menjadi faktor penting bagi pasar minyak karena memperbesar risiko gangguan terhadap ekspor Iran, terutama jika tekanan terhadap jalur pelayaran dan infrastruktur ekspor terus meningkat. Namun, untuk saat ini dampaknya terhadap harga minyak lebih bergantung pada seberapa jauh sanksi tersebut benar-benar mengurangi volume ekspor Iran dan apakah konflik kembali meningkatkan risiko di jalur strategis seperti Selat Hormuz. Jika ekspor Iran semakin terhambat, pasar berpotensi memasukkan premi risiko geopolitik yang lebih besar ke harga minyak. Sebaliknya, jika ketegangan AS-Iran mereda dan distribusi minyak tetap berjalan, pengaruh sanksi terhadap harga dapat relatif terbatas.
Sumber : Newsmaker.id