
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Presiden AS Donald Trump mengatakan Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela pada 3 November, sekaligus menyebut pembicaraan dengan Tehran masih berlangsung. Pernyataan tersebut disampaikan melalui Truth Social pada Kamis (8/10), setelah sebelumnya muncul laporan mengenai persiapan opsi militer terhadap Iran. Trump menyebut pembicaraan berlangsung produktif, meskipun ia tetap menegaskan bahwa blokade terhadap Iran masih diberlakukan. Reuters
Pernyataan tersebut langsung mengubah sentimen pasar energi. WTI sempat turun dari sekitar US$92,70 ke US$90,50 per barel, sebelum kembali bergerak di atas US$91. Penguatan WTI yang sebelumnya mencapai sekitar 4% juga menyusut menjadi sekitar 2,4%. Pasar melihat penundaan aksi militer AS sebagai sinyal bahwa risiko eskalasi langsung antara Washington dan Tehran dalam beberapa minggu ke depan menjadi lebih rendah.
Namun, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Ketegangan di kawasan tetap tinggi setelah sejumlah serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz dan konflik antara kelompok Houthi dengan pasukan yang didukung Saudi. Gangguan tersebut masih menjadi faktor penting bagi pasar karena Hormuz merupakan jalur utama perdagangan energi global. Laporan terbaru juga menunjukkan serangan terhadap kapal kembali meningkat, sehingga setiap perkembangan militer maupun diplomatik masih berpotensi memicu volatilitas harga energi. The Guardian
Dari sisi pasar saham, sentimen juga ikut membaik meskipun tidak sepenuhnya menghapus tekanan sebelumnya. S&P 500 yang sempat turun sekitar 0,58% memangkas penurunan menjadi sekitar 0,19% setelah pernyataan Trump. Investor merespons positif berkurangnya risiko eskalasi militer dalam waktu dekat, tetapi tetap memperhatikan harga minyak karena energi yang mahal dapat menjaga tekanan inflasi dan membuat suku bunga global bertahan tinggi lebih lama.
Newsmaker melihat, pernyataan Trump untuk menunda serangan sebelum pemilu berpotensi memberikan tekanan jangka pendek terhadap premi risiko geopolitik. Jika pembicaraan AS-Iran menghasilkan kemajuan nyata dan arus energi melalui Hormuz tetap lancar, harga minyak berpotensi kembali terkoreksi. Sebaliknya, apabila negosiasi kembali menemui jalan buntu atau serangan terhadap kapal meningkat, pasar dapat dengan cepat memasukkan kembali premi risiko ke dalam harga. Dengan demikian, arah diplomasi AS-Iran dan kondisi pelayaran di Selat Hormuz menjadi dua faktor utama yang perlu diperhatikan pasar berikutnya.
Sumber: Newsmaker.id