
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis Alberto Musalem memberikan sinyal hawkish terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Dalam sebuah acara yang digelar Federal Reserve Bank of Minneapolis pada Kamis (8/10), Musalem mengatakan inflasi masih berada pada level tinggi dan diperlukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut untuk mengembalikan inflasi menuju target 2%. Pernyataan tersebut kembali memperkuat perhatian pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Musalem menilai tekanan inflasi saat ini berasal dari kombinasi permintaan yang masih kuat dan sejumlah guncangan dari sisi pasokan. Menurutnya, menjaga inflasi agar kembali ke target secara tepat waktu penting untuk mencegah munculnya efek lanjutan terhadap harga. Ia juga mengatakan bahwa perekonomian AS masih berada dalam kondisi cukup kuat, sementara pasar tenaga kerja secara keseluruhan masih seimbang dan stabil sehingga The Fed dapat lebih fokus menurunkan inflasi.
Mengenai arah suku bunga, Musalem menyebut bahwa tingkat suku bunga seharusnya bergerak lebih tinggi dalam enam hingga sembilan bulan ke depan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya tetap terbuka terhadap data ekonomi terbaru dan tidak memiliki keputusan yang sudah ditentukan untuk setiap pertemuan The Fed. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keputusan kebijakan tetap akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, pasar tenaga kerja, dan kondisi perekonomian.
Pernyataan Musalem juga memberikan implikasi terhadap pasar keuangan. Ia menilai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury yield terjadi antara lain karena peningkatan real yield yang berkaitan dengan perubahan ekspektasi terhadap suku bunga. Jika ekspektasi kenaikan suku bunga semakin kuat, yield dan dolar AS berpotensi tetap mendapat dukungan, sementara aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas dan perak menghadapi tekanan dari meningkatnya biaya peluang untuk memilikinya.
Analisis Newsmaker:
Sinyal hawkish Musalem menjadi tambahan tekanan bagi Gold dan aset berisiko karena pasar kembali dihadapkan pada kemungkinan suku bunga AS yang lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Namun, arah berikutnya tetap bergantung pada data inflasi dan tenaga kerja yang akan menjadi pertimbangan utama The Fed. Jika data ekonomi kembali menunjukkan tekanan inflasi yang persisten, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat semakin menguat dan berpotensi menopang dolar serta yield, sekaligus membatasi ruang penguatan Gold. Sebaliknya, jika inflasi mulai mereda dan pasar tenaga kerja melemah, ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan lebih ketat dapat berkurang.
Sumber : Newsmaker.id