
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah pasukan AS melancarkan gelombang serangan baru terhadap target yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC. Tidak lama setelah itu, Teheran menyatakan telah melakukan serangan balasan terhadap pangkalan Amerika di kawasan tersebut.
Komando Pusat AS menyatakan operasi yang telah rampung itu menargetkan lokasi pertahanan udara, sistem radar, fasilitas maritim, kemampuan penebaran ranjau, serta lokasi komunikasi milik IRGC. Washington menyebut serangan tersebut sebagai respons atas upaya IRGC menyerang kapal komersial di Selat Hormuz dan personel militer AS di kawasan.
Presiden Donald Trump mengatakan serangan terbaru AS merupakan balasan atas dugaan upaya Iran menebar ranjau di Selat Hormuz serta serangan sebelumnya terhadap pangkalan militer. Ia juga memperingatkan bahwa AS dapat melancarkan serangan lanjutan jika Teheran kembali merespons.
Iran kemudian mengklaim telah menjalankan “operasi tegas” terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan. Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa Teheran menembakkan rudal ke sebuah pangkalan Amerika di Yordania, meskipun belum ada konfirmasi langsung dari pihak AS terkait klaim tersebut.
Eskalasi ini langsung memicu kenaikan harga energi. Minyak mentah WTI melonjak hingga menembus US$90 per barel, sementara kontrak berjangka gas alam Eropa naik ke level tertinggi sejak Januari 2023. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia.
Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian karena jalur tersebut merupakan rute penting pengiriman minyak global. Sebelum eskalasi terbaru, volume pengiriman melalui selat sempat pulih hingga sekitar setengah dari level sebelum perang, didukung menurunnya serangan dan operasi pengangkutan terselubung oleh sejumlah produsen utama Timur Tengah.
Di sisi politik, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemimpin Iran mulai tertekan oleh persoalan ekonomi domestik. Ia memperkirakan Teheran pada akhirnya akan bersedia merundingkan kesepakatan untuk mengakhiri perang, meskipun perkembangan terbaru menunjukkan risiko eskalasi masih sangat tinggi.
Analisis Newsmaker: Eskalasi baru AS-Iran membuat risiko geopolitik kembali menjadi penggerak utama pasar energi. Jika serangan berlanjut dan Selat Hormuz kembali terganggu, harga minyak berpotensi bertahan tinggi dan menambah tekanan inflasi global. Kondisi ini bisa memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dari bank sentral, termasuk The Fed. Namun, jika tekanan ekonomi membuat Iran kembali membuka ruang negosiasi, premi risiko minyak dapat mereda dan harga berpotensi terkoreksi dari area tinggi.
Sumber: Newsmaker.id