
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak menguat pada perdagangan hari ini seiring meningkatnya kembali tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Teluk, khususnya di sekitar Selat Hormuz, kembali mendorong premi risiko ke harga minyak mentah.
Sentimen bullish juga datang dari kekhawatiran bahwa eskalasi konflik dapat menghambat jalur ekspor energi utama dari Timur Tengah. Selat Hormuz tetap menjadi titik penting karena sebagian besar aliran minyak dari kawasan Teluk melewati jalur tersebut. Setiap ancaman terhadap keamanan pelayaran berpotensi langsung meningkatkan risiko suplai global.
Meski demikian, kenaikan harga minyak masih dibatasi oleh kekhawatiran terhadap permintaan global. Pasar masih menilai prospek pertumbuhan ekonomi dunia, khususnya dari China dan negara konsumen energi besar lainnya. Selain itu, peluang munculnya kembali jalur diplomasi antara pihak-pihak terkait juga menjadi faktor yang bisa menahan kenaikan lebih lanjut.
Secara teknikal, Brent masih menunjukkan struktur yang relatif positif selama harga mampu bertahan di atas area support sekitar US$89–90 per barel. Jika tekanan beli berlanjut, resistance terdekat berada di kisaran US$92, kemudian US$94–95. Penembusan di atas area tersebut dapat membuka ruang penguatan lebih lanjut.
Sebaliknya, jika harga gagal mempertahankan area US$89, koreksi dapat membawa Brent menuju US$87–88, sementara tekanan jual yang lebih besar berpotensi membuka ruang ke area US$85–86. Dengan volatilitas yang masih tinggi, pergerakan minyak diperkirakan tetap sangat sensitif terhadap setiap perkembangan baru terkait Iran dan Selat Hormuz.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id