
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak mentah bergerak menguat pada perdagangan Jumat, dengan Brent berada di sekitar US$96 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) di sekitar US$92 per barel. Secara mingguan, Brent telah naik sekitar 7,1% sementara WTI melonjak sekitar 9,8%, menempatkan minyak di jalur kenaikan mingguan terkuat sejak pertengahan Juli. Penguatan ini terutama didorong meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Dari sisi fundamental, fokus pasar masih tertuju pada Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman energi paling penting di dunia. Ketegangan meningkat setelah serangan terbaru Amerika Serikat di Iran dan respons Teheran terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut. Iran dilaporkan memperluas daftar kapal yang dianggap tidak memenuhi ketentuannya, sementara lalu lintas melalui Hormuz tetap menjadi sumber ketidakpastian bagi pasar. Kondisi ini menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi dan membuat pelaku pasar enggan mengambil posisi bearish terlalu agresif.
Ancaman terhadap infrastruktur energi Iran juga menambah tekanan pada sisi suplai. Pejabat Israel telah memberi sinyal mengenai kemungkinan serangan terhadap fasilitas energi Iran, sementara Washington menegaskan pembicaraan diplomatik dapat tertahan jika serangan terhadap pelayaran komersial terus berlangsung. Jika eskalasi menyentuh fasilitas produksi, terminal ekspor, atau jalur tanker secara lebih luas, harga minyak berpotensi kembali memperoleh dorongan yang signifikan.
Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang dapat membatasi kenaikan harga. Rusia kembali memberi sinyal terbuka terhadap peluang penyelesaian konflik Ukraina, yang dapat mengurangi sebagian kekhawatiran terhadap pasokan energi Rusia. Selain itu, Irak meningkatkan ekspor minyaknya menjadi sekitar 2,34 juta barel per hari pada Agustus dan berpotensi kembali menaikkan pasokan pada September. Tambahan pasokan tersebut dapat menjadi penyeimbang apabila gangguan dari Iran tidak berkembang menjadi penurunan ekspor yang lebih besar.
Dari sisi permintaan, pasar juga menantikan laporan tenaga kerja AS yang akan dirilis hari ini. Data Non-Farm Payrolls dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan Federal Reserve, dolar AS, serta prospek pertumbuhan ekonomi Amerika. Data tenaga kerja yang kuat dapat menopang ekspektasi permintaan energi, tetapi juga berpotensi meningkatkan peluang suku bunga tinggi lebih lama. Sebaliknya, data yang terlalu lemah dapat menekan prospek permintaan minyak meskipun pada saat yang sama melemahkan dolar. Karena itu, reaksi minyak terhadap NFP kemungkinan akan bergantung pada seberapa besar pasar menimbang faktor permintaan dibandingkan risiko geopolitik.
Secara teknikal, Brent masih mempertahankan struktur bullish setelah menembus area US$94 dan bergerak menuju zona psikologis US$96-US$97. Area US$97 menjadi resistance terdekat karena harga sebelumnya sempat mencapai level tersebut dalam perdagangan pekan ini. Jika Brent mampu menembus dan bertahan di atas US$97, momentum kenaikan berpotensi berlanjut menuju area psikologis US$100 per barel.
Untuk sisi bawah, area US$94-US$95 menjadi support awal Brent. Selama harga mampu bertahan di atas zona tersebut, kecenderungan jangka pendek masih positif. Penurunan di bawah US$94 dapat membuka peluang koreksi menuju area US$92, terutama apabila muncul berita deeskalasi AS-Iran atau peningkatan aliran minyak melalui Hormuz.
Pada WTI, harga berada di sekitar US$91,56 setelah mencatat kenaikan empat sesi berturut-turut. Area US$92 menjadi resistance psikologis terdekat, kemudian US$94-US$95 apabila tekanan beli terus bertahan. Sementara itu, support awal berada di kisaran US$90, disusul US$88-US$89. Selama WTI bertahan di atas US$90, struktur teknikal jangka pendek masih cenderung bullish.
Secara keseluruhan, bias minyak hari ini masih cenderung bullish karena risiko pasokan dari konflik AS-Iran dan ketidakpastian di Selat Hormuz masih menjadi faktor yang lebih dominan. Namun, kenaikan yang sudah cukup tajam sepanjang pekan meningkatkan risiko profit taking. Brent berpeluang menguji kembali US$97 dan bahkan US$100 jika eskalasi berlanjut, sementara kabar deeskalasi atau membaiknya arus pengiriman dapat memicu koreksi cepat dari level saat ini.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id