
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak menguat pada perdagangan Rabu, 2 September 2026, melanjutkan lonjakan tajam pada sesi sebelumnya setelah konflik Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Brent berada di sekitar US$95,4 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI bergerak di kisaran US$90,7 per barel. Pada perdagangan Selasa, Brent bahkan melonjak 4,6% dan WTI naik 5,2%, mencatat penutupan tertinggi sejak akhir Juli.
Secara fundamental, faktor terbesar yang menopang harga minyak saat ini adalah meningkatnya risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah. Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap target Iran, sementara Teheran membalas dengan rudal dan drone ke fasilitas militer AS di kawasan. Ketegangan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat mengganggu aliran energi melalui Selat Hormuz, jalur yang sebelum konflik membawa sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Risiko tersebut bukan hanya berasal dari ancaman politik. Dua supertanker yang membawa minyak Saudi dilaporkan terkena proyektil saat melintasi kawasan Hormuz, sementara data pelacakan kapal menunjukkan jumlah kapal komoditas yang melewati selat tersebut turun menjadi hanya empat pada Selasa, jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 13 kapal. Kondisi ini membuat pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik yang lebih tinggi ke dalam harga minyak.
Namun, terdapat faktor yang dapat menahan kenaikan minyak terlalu jauh. Menteri Energi AS mengatakan sekitar 17 juta barel minyak berhasil melewati Hormuz pada Senin, volume tertinggi sejak gangguan akibat perang mulai terjadi. Artinya, pasar masih terus menilai apakah ancaman Iran benar-benar mampu mengurangi pasokan secara permanen atau hanya menciptakan gangguan sementara pada aktivitas pelayaran.
Selain geopolitik, fundamental minyak juga mendapat dukungan dari penurunan persediaan minyak mentah dan distilat di Amerika Serikat. Inventori yang lebih rendah biasanya menunjukkan kondisi pasokan yang lebih ketat, sehingga memperkuat sentimen bullish yang sebelumnya sudah muncul akibat konflik Timur Tengah.
Meski demikian, kenaikan harga minyak masih memiliki batas dari sisi permintaan. Survei Reuters terhadap analis menunjukkan risiko pasokan Timur Tengah diperkirakan dapat mempertahankan Brent di atas US$80 sepanjang 2026, tetapi pertumbuhan permintaan yang relatif lemah, terutama dari China, masih menjadi faktor pembatas kenaikan. Dengan demikian, lonjakan minyak saat ini lebih banyak digerakkan oleh supply risk dibandingkan lonjakan permintaan global.
Dari sisi teknikal, Brent saat ini telah berhasil menembus area psikologis US$90 dan bergerak mendekati US$95–US$96. Area tersebut menjadi resistance terdekat karena harga sudah mengalami kenaikan cukup cepat dalam beberapa sesi terakhir. Jika Brent mampu bertahan di atas US$95 dan menembus US$96 secara konsisten, ruang kenaikan berikutnya dapat terbuka menuju US$98, kemudian area psikologis US$100 per barel.
Sebaliknya, kegagalan Brent bertahan di atas US$95 dapat memicu aksi profit taking menuju area US$93–US$92. Jika tekanan jual berlanjut dan harga kembali turun di bawah US$92, support berikutnya berada di sekitar US$90. Penembusan kembali ke bawah US$90 dapat menjadi sinyal bahwa premi geopolitik mulai berkurang, terutama apabila muncul perkembangan diplomatik antara AS dan Iran atau aktivitas pengiriman melalui Hormuz kembali normal.
Untuk WTI, area US$90 kini menjadi level teknikal penting. Selama WTI mampu bertahan di atas level tersebut, bias jangka pendek masih cenderung bullish dengan resistance di sekitar US$92–US$93, kemudian US$95. Sebaliknya, jika WTI kembali turun di bawah US$90, koreksi berpotensi mengarah ke US$88, kemudian US$86–US$85.
Secara keseluruhan, outlook minyak hari ini masih cenderung bullish tetapi sangat headline-sensitive. Selama konflik AS–Iran berlanjut, lalu lintas Hormuz tetap terganggu, dan ancaman terhadap kapal tanker masih terjadi, premi risiko kemungkinan akan mempertahankan Brent di area tinggi. Namun, setelah kenaikan lebih dari 4% dalam satu sesi, risiko koreksi teknikal juga meningkat. Karena itu, area US$95–US$96 untuk Brent menjadi titik penentu utama: breakout membuka peluang menuju US$100, sedangkan rejection dapat membawa harga kembali menuju US$92–US$90.
Yang paling menarik untuk dipantau hari ini bukan cuma harga minyaknya, tetapi jumlah kapal yang benar-benar berhasil melewati Hormuz. Kalau traffic kembali turun tajam, market bisa dengan cepat menaikkan lagi premi perang dan mendorong minyak lebih tinggi.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id