
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu (2/9), dengan spot gold bergerak di sekitar US$4.300–US$4.310 per troy ounce setelah sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari tiga pekan. Emas menuju pelemahan untuk sesi keempat berturut-turut setelah tekanan dari dolar AS, kenaikan yield Treasury, dan perubahan ekspektasi kebijakan Federal Reserve semakin mendominasi pasar.
Secara fundamental, faktor utama yang menekan emas berasal dari meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat kembali menaikkan suku bunga pada September. Pasar saat ini memperhitungkan sekitar 67% peluang kenaikan suku bunga, setelah Ketua The Fed Kevin Warsh dan Gubernur Fed Michael Barr memberikan nada hawkish. Barr bahkan mengatakan kenaikan suku bunga dapat diperlukan apabila inflasi tidak menunjukkan penurunan yang cukup cepat.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran juga menciptakan dinamika yang tidak biasa bagi emas. Eskalasi konflik biasanya meningkatkan permintaan safe haven, tetapi kali ini kenaikan harga minyak justru memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi. Minyak yang semakin mahal dapat membuat The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, mendorong yield Treasury naik dan pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Penguatan dolar AS turut membatasi ruang kenaikan emas. Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sementara kenaikan yield meningkatkan daya tarik instrumen berbasis bunga dibandingkan logam mulia. Karena itu, meskipun risiko geopolitik tetap tinggi, pasar saat ini lebih banyak memperhatikan dampaknya terhadap inflasi dan kebijakan suku bunga daripada efek safe haven.
Dari sisi teknikal, struktur harga emas masih menunjukkan bias bearish. Indikator teknikal XAU/USD berada pada kategori Strong Sell untuk timeframe 30 menit, satu jam, lima jam, dan harian. Harga juga masih berada di bawah sejumlah moving average utama, sementara MACD berada di wilayah negatif. Penembusan di bawah moving average 200 hari sebelumnya turut memicu tekanan jual teknikal tambahan.
Namun, indikator RSI 14 berada di sekitar 29, yang menunjukkan emas sudah mendekati kondisi oversold. Kondisi ini membuka kemungkinan terjadinya technical rebound apabila seller mulai melakukan aksi ambil untung. Artinya, meskipun tren utama masih bearish, pelemahan tidak selalu berlangsung dalam satu arah dan potensi pantulan jangka pendek tetap perlu diperhatikan.
Untuk pergerakan hari ini, area US$4.300–US$4.302 menjadi level psikologis sekaligus pivot penting. Jika area tersebut gagal bertahan, tekanan jual berpotensi membawa emas menuju US$4.288–US$4.278, kemudian US$4.264. Penembusan lebih dalam dapat memperkuat struktur bearish dan membuka ruang penurunan lanjutan.
Sebaliknya, apabila emas mampu bertahan di atas US$4.300 dan melakukan rebound, resistance awal berada di sekitar US$4.316–US$4.326. Penembusan area tersebut dapat membuka peluang pemulihan menuju US$4.340–US$4.354. Namun, selama harga belum mampu kembali bertahan di atas area resistance tersebut, kenaikan masih lebih tepat dibaca sebagai technical rebound daripada perubahan tren menjadi bullish.
Analisa Newsmaker: Bias emas hari ini masih cenderung bearish dengan peluang technical rebound karena indikator sudah mendekati kondisi oversold. Area US$4.300 menjadi titik penting untuk menentukan arah berikutnya. Jika level tersebut ditembus secara meyakinkan, tekanan dapat berlanjut menuju US$4.288 hingga US$4.264. Sebaliknya, bertahannya US$4.300 dapat memicu rebound menuju US$4.326–US$4.340. Dari sisi fundamental, perhatian pasar hari ini tertuju pada ADP Employment AS, sementara Nonfarm Payrolls pada Jumat akan menjadi katalis yang lebih besar. Data tenaga kerja yang kuat berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan kembali menekan emas, sedangkan data yang lebih lemah dapat meredakan yield dan membuka ruang pemulihan bagi gold.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id