Saham Asia Terseret Jual Teknologi, Minyak Naik dan Dolar Menguat
Saham Asia turun untuk hari ketiga berturut-turut pada Senin (08/6), dipicu lanjutan aksi jual saham teknologi setelah koreksi tajam di Wall Street dan data tenaga kerja AS yang kuat memperbesar ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Indeks saham Asia Pasifik versi MSCI turun 1,6%, sementara tekanan paling berat terjadi di Korea Selatan.
Indeks Kospi anjlok lebih dari 8% hingga memicu penghentian perdagangan (trading halt), dengan saham-saham chip besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix ikut tertekan. Di Jepang, saham turun lebih dari 2%, memperkuat sinyal bahwa pasar mulai mengurangi risiko setelah reli yang panjang berbasis tema AI.
Meski sentimen sempat stabil ketika futures Nasdaq 100 berbalik naik sekitar 0,3%, pasar masih dibayangi efek jual besar pada Jumat. Nasdaq 100 sebelumnya jatuh 4,8%—penurunan terburuk sejak April 2025 sementara S&P 500 turun 2,6% dan indeks chip tumbang sekitar 10%, memicu kekhawatiran bahwa reli AI “terlalu jauh, terlalu cepat”.
Di komoditas, Brent menguat sekitar 2,6% ke US$95,60/barel setelah Iran menembakkan rudal ke Israel, menambah risiko geopolitik dan premi pasokan. Kenaikan sempat mereda setelah laporan menyebut Trump menilai serangan itu tidak akan menggagalkan upaya mencapai kesepakatan damai, tetapi pasar tetap sensitif karena Selat Hormuz masih menjadi titik rawan arus energi.
Di pasar valas dan obligasi, dolar AS menguat terhadap semua mata uang G10 sebagai aset defensif, sementara yield tetap tinggi setelah data pekerjaan AS memperkuat ekspektasi pengetatan. Job growth Mei melampaui perkiraan dan pengangguran bertahan di 4,3%, membuat pasar semakin yakin The Fed punya ruang untuk fokus pada inflasi. Yield Treasury 2-tahun—yang paling sensitif terhadap kebijakan melonjak ke sekitar 4,15%, dan pasar swap menunjukkan peluang kenaikan suku bunga Fed pada Oktober dan probabilitas kenaikan 25 bps paling lambat Desember.
Di Korea Selatan, pemerintah juga menyiapkan langkah untuk menahan tekanan pada won setelah mata uangnya melemah ke level terlemah sejak 2009. Fokus investor kini beralih ke rapat The Fed 16–17 Juni di bawah Ketua baru Kevin Warsh, dengan pasar menimbang apakah koreksi teknologi ini hanya jeda sehat.(asd)
Sumber : Newsmaker.id