Bursa Hong Kong Turun, Harga Minyak dan Geopolitik Jadi Tekanan
Indeks Hang Seng melemah pada perdagangan Jumat (24/7), seiring meningkatnya tekanan dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Bursa Hong Kong turun 1,3% atau sekitar 324 poin ke level 24.877, setelah sebelumnya sempat mencatat penguatan pada sesi perdagangan terakhir.
Sentimen pasar memburuk setelah harga minyak Brent naik menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam dua bulan. Kenaikan harga minyak terjadi setelah serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah semakin intensif dan meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Ketidakpastian pasar juga bertambah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memperluas serangan terhadap Iran. Kondisi ini membuat investor cenderung menghindari aset berisiko, termasuk saham-saham di Hong Kong dan kawasan Asia.
Tekanan terhadap Hang Seng semakin kuat setelah Wall Street mengalami aksi jual yang dipimpin sektor teknologi. Selain itu, kenaikan imbal hasil Treasury AS turut memperbesar ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Sejumlah saham besar ikut melemah, seperti Tencent turun 2,2%, AIA melemah 1,5%, Xiaomi turun 0,7%, Meituan terkoreksi 2,0%, dan Kingboard Laminates turun 2,7%.
Meski begitu, penurunan Hang Seng masih tertahan oleh langkah bank sentral China yang menyuntikkan likuiditas terbesar dalam lima bulan melalui fasilitas pinjaman jangka menengah. Kebijakan ini meningkatkan harapan bahwa dukungan tambahan untuk pertumbuhan ekonomi China masih terbuka. Dari sisi dampak market, Hang Seng berpotensi tetap volatil selama harga minyak tinggi, konflik Timur Tengah belum mereda, dan ekspektasi suku bunga AS masih menekan minat investor terhadap aset berisiko. (asd)
Sumber: Newsmaker.id