Dow Turun Lima Hari, Lonjakan Minyak dan The Fed Tahan Suku Bunga Tekan Sentimen
Wall Street ditutup mixed pada Rabu (29/4), dengan Dow Jones Industrial Average kembali melemah di tengah reli harga minyak yang berlanjut dan pasar mencerna keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga. Dow turun 280,12 poin (0,57%) ke 48.861,81, mencatat lima sesi turun beruntun. S&P 500 turun tipis 0,04% ke 7.135,95, sementara Nasdaq naik tipis 0,04% ke 24.673,24.
Kenaikan harga energi kembali menjadi katalis utama. WTI naik 7,17% dan ditutup di US$107,16/barel, sedangkan Brent menguat 6,78% ke US$118,80/barel. Harga minyak menguat setelah laporan bahwa Presiden Donald Trump meminta aides menyiapkan skenario blokade Iran yang diperpanjang, lalu mendapat dorongan tambahan setelah laporan bahwa Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menegaskan blokade laut AS akan bertahan sampai ada kesepakatan yang mencakup isu program nuklir Iran.
Di sisi kebijakan moneter, The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75% dengan voting 8–4, pertama kalinya sejak Oktober 1992 terdapat empat dissent. Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan harga minyak yang tinggi akan mendorong inflasi headline dalam jangka dekat, sehingga jalur penurunan suku bunga berpotensi tetap terbatas selama guncangan energi belum mereda.
Powell juga menyatakan akan tetap menjadi gubernur The Fed untuk periode yang belum ditentukan setelah masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada Mei. Sementara itu, Kevin Warsh—kandidat pilihan Trump—dinilai berada di jalur untuk menggantikan Powell, dan pasar pada dasarnya tidak mengantisipasi perubahan suku bunga pada pertemuan ini.
Perhatian investor berikutnya tertuju pada laporan kinerja kuartalan empat raksasa teknologi yang dijadwalkan rilis setelah penutupan perdagangan: Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Microsoft. Ekspektasi pasar tinggi agar emiten-emiten tersebut menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang cukup untuk membenarkan belanja modal besar terkait investasi kecerdasan buatan (AI), di tengah kondisi makro yang kembali sensitif terhadap pergerakan minyak, inflasi, dan suku bunga.(Arl)*
Sumber: Newsmaker.id