S&P 500 Menjauh dari Low, Pasar Menimbang Skenario Perang Timur Tengah
Pelaku pasar Wall Street yang masih bergulat dengan berbagai kemungkinan arah perang di Timur Tengah mendorong saham-saham AS menjauh dari level terendah sesi, seiring munculnya harapan pembicaraan untuk mengakhiri konflik yang terus berlarut. Di sisi lain, harga minyak kembali menguat, menandakan premi risiko energi masih tertanam kuat.
S&P 500 bergerak mendatar pada perdagangan hari Selasa (24/3) setelah sempat turun hampir 1%. Sumber Iran mengatakan kepada CNN bahwa telah ada “outreach” antara Washington dan Teheran, dan Iran bersedia mendengarkan proposal yang dinilai “berkelanjutan.” Di pasar saham, sektor energi menguat seiring Brent bertahan di atas $103 per barel. Sementara itu, saham-saham software melemah setelah laporan bahwa Amazon Web Services (AWS) sedang mengembangkan perangkat AI baru, yang memicu kekhawatiran soal melemahnya permintaan produk legacy.
Di pasar logam mulia, emas bergerak fluktuatif setelah mencatat sembilan hari pelemahan beruntun. Yield Treasury dan dolar AS juga naik tipis, menjaga tekanan pada aset non-yielding tetap terasa meski sentimen risk-off tidak sepenuhnya dominan.
Dari sisi geopolitik, pejabat Israel mengatakan negaranya akan tetap melanjutkan serangan ke Iran meski Presiden Donald Trump mengklaim pembicaraan sedang berlangsung. Sejumlah sumber menyebut negara-negara tetangga Arab di Teluk—sekutu utama Iran—sedang mempertimbangkan untuk ikut terlibat, terutama jika Teheran menyerang infrastruktur vital mereka.
Iran juga mulai mengenakan biaya transit pada sebagian kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz, mempertegas kendali Teheran atas jalur energi maritim paling penting di dunia. Kebijakan ini menambah ketidakpastian bagi pelayaran dan memperkuat narasi bahwa stabilisasi pasar energi masih jauh dari kata aman.
Pada pukul 12:06 siang waktu New York, S&P 500 turun 0,2%, Nasdaq 100 turun 0,5%, sementara Dow Jones bergerak relatif datar.
Inti Newsmaker: saham AS mulai “menarik diri” dari titik terendah karena secercah harapan talks, tetapi arah pasar tetap rapuh. Selama konflik belum mereda dan Hormuz masih di bawah tekanan, minyak cenderung tetap kuat dan volatilitas lintas aset akan tetap tinggi—pasar akan terus bergerak dari satu headline ke headline berikutnya. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id