• Tue, Mar 3, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

3 March 2026 07:25  |

Saham Asia Dibuka Merah, Yield AS Naik ke 4%

Saham Asia dibuka melemah pada Selasa (03/03), terseret kenaikan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong investor mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga. Tekanan terlihat sejak awal perdagangan, terutama di Jepang dan Korea Selatan yang kembali bertransaksi setelah libur panjang.

Sentimen global juga cenderung hati-hati. Kontrak berjangka indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 bergerak turun tipis setelah Wall Street pada Senin berhasil memangkas kerugian awal dan ditutup nyaris tidak berubah. Pasar menilai konflik masih menjadi risiko besar, namun dampak finansial jangka pendeknya belum sepenuhnya “lepas kendali”.

Di pasar mata uang, dolar mempertahankan penguatannya, sementara WTI cenderung stabil setelah melonjak tajam pada sesi sebelumnya. Di Eropa, harga gas alam melonjak setelah Qatar menutup fasilitas ekspor LNG terbesar dunia, mempertegas bahwa gangguan energi kini menjadi faktor dominan dalam pergerakan pasar.

Kenaikan biaya energi mulai memukul pasar obligasi. Kekhawatiran inflasi membuat investor melepas surat utang, sehingga imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik dan menyentuh sekitar 4,03%. Seiring itu, pasar kini sepenuhnya memproyeksikan pemangkasan suku bunga pertama AS baru terjadi pada September, sementara peluang pemotongan tambahan pada 2026 semakin menipis.

Komentar pejabat AS menambah ketidakpastian. Presiden Donald Trump menyatakan tidak ada batas waktu yang pasti, sementara Menteri Pertahanan Pete Hegseth menolak narasi perang “tanpa akhir”. Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga menyebut intensitas serangan akan ditingkatkan, dengan pernyataan bahwa fase berikutnya “akan lebih berat”, yang memperpanjang risiko geopolitik.

Di Australia, imbal hasil obligasi 10 tahun ikut melonjak setelah Gubernur RBA Michele Bullock menyatakan bank sentral “sangat waspada” terhadap dampak konflik pada ekspektasi inflasi dan siap merespons bila diperlukan. Sejumlah analis menilai pasar masih menganggap konflik sebagai risiko geopolitik yang relevan, tetapi “sementara ini” masih terkendali secara finansial—dengan catatan, situasi bisa berubah cepat jika harga minyak naik tajam dan bertahan tinggi.(asd)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

MARKET UPDATE

Asia Cetak Rekor, Yield AS Naik: CPI Pasar Nunggu

Saham Asia menguat untuk hari kelima berturut-turut pada hari Rabu, dengan MSCI Asia Pacific Index naik sekitar 0,4% dan kemb...

12 February 2026 07:26
MARKET UPDATE

Asia Merah Tipis, Yen Tetap Kuat: Tarif Korea Bikin Pasar Ki...

Bursa Asia bergerak melemah tipis setelah kekhawatiran tarif muncul lagi. Korea Selatan jadi pusat perhatian: Kospi turun sek...

27 January 2026 07:23
MARKET UPDATE

Pasar Asia Cenderung Hati-Hati, Pasca Rilis Data AS

Pasar saham Asia dibuka tanpa arah yang jelas pada Rabu (6/8), setelah data sektor jasa AS yang melemah memicu ketidakpastian...

6 August 2025 07:48
MARKET UPDATE

Pasar Saham Asia Terus Menguat, S&P 500 Juga Tembus Rekor

Saham-saham Asia melanjutkan kenaikan dua hari berturut-turut, mengikuti momentum positif dari Wall Street yang mendorong ral...

23 December 2025 07:21
BIAS23.com NM23 Ai