Bursa Eropa Datar: Earnings Jadi Penentu Arah
Bursa saham Eropa memulai perdagangan Rabu (4/2) dengan gerak hati-hati: mayoritas indeks cuma naik tipis, seolah pasar lagi “nahan napas” menunggu arah dari banjir laporan keuangan emiten besar. Indeks Stoxx 600 bergerak nyaris datar tak lama setelah pembukaan, sementara bursa utama menunjukkan penguatan ringan—FTSE Inggris menguat mendekati 0,5%, DAX Jerman sekitar 0,3%, dan CAC 40 Prancis memimpin dengan kenaikan sekitar 0,7%. Di Italia, FTSE MIB juga ikut naik sekitar 0,7%.
Mood pasar membaik setelah sesi sebelumnya sempat diganggu aksi jual singkat di kripto dan logam mulia, yang sempat bikin investor defensif. Setelah “debu” mereda, pelaku pasar balik fokus ke hal yang paling menentukan minggu ini: earnings—apakah kinerja perusahaan cukup kuat untuk membenarkan valuasi, terutama di sektor keuangan dan kesehatan.
Dari sisi korporasi, Banco Santander justru melemah sekitar 3,5% meski mengumumkan rencana besar: bank Spanyol itu akan mengakuisisi Webster Bank di AS dalam transaksi sekitar $12,2 miliar. Di saat yang sama, Santander merilis laporan kuartal empat lebih cepat dan mencatat laba bersih €3,76 miliar, melampaui ekspektasi pasar, plus mengumumkan buyback saham baru senilai €5 miliar—namun pasar tampaknya lebih “mikir” soal risiko integrasi dan harga akuisisi.
Di sektor kesehatan, sorotan tajam mengarah ke Novo Nordisk yang tertekan besar hingga -18% di awal perdagangan. Pasar bereaksi setelah perusahaan memperingatkan laju pertumbuhan tahun ini akan melambat, dipicu tekanan harga di AS serta berakhirnya eksklusivitas Wegovy dan Ozempic di beberapa negara (termasuk China, Brasil, dan Kanada). Di tengah itu, agenda rilis laporan keuangan tetap padat—mulai dari Novartis, GSK, Infineon, Equinor, Credit Agricole, Handelsbanken, Carlsberg, hingga OMV.
Sementara UBS turun sekitar 1,8% walau secara angka membukukan kinerja kuartal empat yang solid: laba bersih $1,2 miliar, naik 56% dari tahun sebelumnya dan mengalahkan konsensus. Reaksi negatif ini mengisyaratkan pasar lagi sensitif: bukan cuma “bagus atau nggak”, tapi juga seberapa besar ekspektasi yang sudah keburu dipatok sebelum laporan keluar. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id