Pasar Cari Arah: Saham Flat, Dolar Menguat, Komoditas Rontok
Wall Street membuka awal Februari dengan langkah hati-hati. Saham bergerak naik-turun tanpa arah yang pasti, setelah pasar sempat diguncang “pecahnya” reli logam mulia. Tekanan emas dan perak memang mulai mereda dibanding sesi sebelumnya, tapi sentimen risk-off masih terasa: minyak jatuh, dolar menguat, dan imbal hasil obligasi naik.
Indeks saham AS kesulitan mengumpulkan tenaga setelah aksi jual ekstrem di logam mulia pada Jumat. S&P 500 turun tipis, sementara dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama. Emas sempat memangkas penurunan, namun masih turun sekitar 3%, memperpanjang pelemahan terbesar dalam lebih dari satu dekade.
Di pasar energi, minyak ikut tertekan—turun sekitar 4,5%—setelah Donald Trump menyatakan Washington sedang berbicara dengan Iran. Sinyal de-eskalasi itu membuat “premi risiko geopolitik” menguap, dan pasar minyak langsung melakukan reset posisi.
Latar belakangnya, reli emas–perak yang sempat meledak pada Januari berjalan terlalu cepat. Dorongannya datang dari kombinasi isu geopolitik, kekhawatiran pelemahan mata uang, hingga polemik independensi bank sentral. Ketika arah sentimen berubah, posisi yang terlalu padat dibongkar serentak—membuat pasar mendadak volatil dan sulit stabil dalam sekali napas.
Fokus berikutnya bagi trader adalah data manufaktur dari Institute for Supply Management (ISM) yang rilis nanti, yang diperkirakan menunjukkan perbaikan pada Januari. Selain itu, pidato Raphael Bostic juga akan dipantau untuk membaca nada kebijakan suku bunga—apakah pasar harus bersiap dengan “higher for longer” lebih lama.
Pada awal perdagangan New York, S&P 500 turun 0,1%, Nasdaq 100 turun 0,1%, dan Dow Jones nyaris tidak berubah. Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury 10 tahun naik tipis ke sekitar 4,25%, dolar naik sekitar 0,2%, dan Bitcoin menguat sekitar 2,4%—menunjukkan arus dana masih bergerak cepat mencari posisi aman dan peluang pantulan. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id