Pasar Masuk Mode Waspada: China, Logam Mulia, dan Bitcoin
Pasar Asia-Pasifik bergerak campur aduk jelang rilis data aktivitas pabrik China untuk Januari. Di Jepang, Nikkei 225 naik 0,13% dan Topix menguat 0,52%, sementara Korea Selatan justru terpukul: Kospi turun lebih dari 2,5% dan Kosdaq melemah hingga 3%. Di Australia, S&P/ASX 200 turun 0,57%, sedangkan kontrak berjangka Hang Seng berada di 27.330, sedikit di bawah penutupan terakhir 27.387,11.
Sentimen “risk-off” semakin terasa setelah jatuhnya tajam logam mulia pada hari Jumat. Perak—yang sudah lebih dari dua kali lipat dalam 12 bulan terakhir—ambles sekitar 30% dalam satu hari (terburuk sejak 1980), sementara emas turun sekitar 9%. Pagi ini, emas spot terakhir di sekitar $4.744/ons dan perak di area $80/ons, membuat investor semakin sensitif terhadap volatilitas dan mulai mengurangi risiko.
Getaran risk-off merembet ke aset berisiko, terutama Bitcoin yang sempat jatuh di bawah $80.000 untuk pertama kali sejak April, dan terakhir diperdagangkan di sekitar $76.700. Bersamaan dengan itu, futures Wall Street melemah di awal sesi Asia: Dow futures turun 143 poin (sekitar 0,3%), S&P 500 futures turun 0,6%, dan Nasdaq-100 futures tertekan hampir 1%.
Dari sesi Jumat di AS, saham-saham turun lagi karena sektor teknologi masih lesu, meski pasar relatif menerima pilihan Donald Trump yang mengarah pada Kevin Warsh untuk memimpin Federal Reserve. S&P 500 ditutup turun 0,43% ke 6.939,03, Dow turun 0,36% ke 48.892,47, dan Nasdaq Composite melemah 0,94% ke 23.461,82. Intinya: pasar membuka bulan baru dalam mode “uji nyali”—arah berikutnya sangat ditentukan oleh data China dan apakah koreksi emas-perak serta pelemahan bitcoin berhenti atau lanjut..(asd)
Sumber: Newsmaker.id