Saham Dunia Dekat Rekor, Perak Melejit Lalu Berbalik
Saham global bertahan di dekat level rekor, sementara perak sempat mencetak puncak baru sebelum memecahkan penutupan di tengah perdagangan liburan yang sepi. Indikator saham Asia naik 0,2% pada awal perdagangan, sedangkan saham berjangka AS cenderung stabil setelah S&P 500 ditutup mendekati all-time high pada hari Jumat.
Perak sempat mengandalkan 6% dan menembus $80 per orang untuk pertama kalinya, tetapi kemudian standar kenaikan dan turun lebih dari 2%. “Kita sedang menyaksikan bubble generasi yang terjadi di perak,” tulis analis IG Australia Tony Sycamore pada Minggu, menyoroti kuatnya dorongan spekulatif dan pergerakan harga yang ekstrem.
Sycamore menilai kenaikan perak juga didukung permintaan industri yang “tanpa henti” dari panel surya, kendaraan listrik (EV), pusat data AI, dan elektronik, yang dipicu dengan inventaris yang semakin menipis. Kondisi ini, menurutnya, mendorong premi fisik perak ke level yang sangat tinggi.
Reli logam mulia dalam beberapa bulan terakhir diikuti dengan pembelian bank sentral yang tinggi, arus masuk ke ETF, serta tiga kali pemangkasan suku bunga berturut-turut oleh Federal Reserve. Suku bunga yang lebih rendah biasanya menguntungkan komoditas karena tidak memberikan bunga, dan pasar juga mulai bertaruh akan ada memangkas suku bunga lagi pada tahun 2026. Emas dan platinum juga sempat melonjak ke rekor pada hari Jumat, sebelum harga emas batangan turun pada hari Senin.
Di pasar saham, MSCI All Country World Index relatif stabil setelah naik 1,4% pekan lalu dan ditutup di all-time high baru seiring menguatnya reli akhir tahun. Indeks ini sudah naik hampir 22% sepanjang tahun 2025, menuju kenaikan tahunan ketiga berturut-turut dan yang terbesar sejak 2019. Ke depan, investor menilai tren AI dan arah suku bunga Fed akan menjadi dua faktor kunci untuk kinerja saham global pada tahun 2026, dengan perhatian pekan ini dimulai pada rilis notulen FOMC dari rapat Fed bulan Desember.(asd)
Sumber : Newsmaker.id