Dolar Melemah, Euro dan Aussie Ambil Momentum
Dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Senin (17/8) setelah rangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lunak membuat pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan AS ikut mendorong investor mengurangi posisi dolar.
Tekanan terhadap greenback datang setelah Retail Sales AS Juli turun untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, menyusul data tenaga kerja yang lemah dan inflasi yang relatif terkendali. Kondisi tersebut membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September turun menjadi sekitar 30,6%, dari sekitar 52,2% sepekan sebelumnya.
Euro menjadi salah satu mata uang yang mendapat dukungan dari pelemahan dolar. EUR/USD sempat menyentuh level tertinggi dalam dua bulan dan bergerak di sekitar 1,1583. Dolar juga melemah terhadap franc Swiss, dengan USD/CHF turun ke sekitar 0,8098.
Yen Jepang menguat tipis dan bergerak di sekitar 159,36 per dolar, meskipun data pertumbuhan ekonomi Jepang sebelumnya lebih lemah dari perkiraan. Fokus pasar masih tertuju pada peluang Bank of Japan menaikkan suku bunga setelah intervensi bersama Jepang dan AS pada akhir Juli membantu menahan pelemahan yen.
Sementara itu, dolar Australia mencatat penguatan cukup kuat, dengan AUD/USD naik sekitar 0,5% ke 0,7118. Dolar juga melemah tipis terhadap yuan offshore ke sekitar 6,741, meskipun data produksi industri dan Retail Sales China menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan.
Analisis Newsmaker: Tekanan terhadap dolar masih berasal dari perubahan ekspektasi kebijakan The Fed setelah data tenaga kerja, inflasi, dan konsumsi AS melunak. Selama peluang Fed hike tetap rendah, euro, Aussie, yen, dan franc masih memiliki ruang mempertahankan penguatan. Namun, arah dolar berikutnya akan sangat bergantung pada sinyal kebijakan dari Jackson Hole serta data ekonomi AS berikutnya.(yds)
Sumber: Newsmaker.id