Dolar Tertahan, Pasar Tunggu Retail Sales AS
Dolar AS bergerak mixed terhadap mata uang utama pada perdagangan Kamis (16/7), dengan pergerakan yang masih terbatas karena pasar menimbang risiko geopolitik dan arah kebijakan The Fed. Aktivitas perdagangan juga cenderung sepi, menunjukkan investor masih menahan posisi besar.
Indeks spot dolar bloomberg bergerak naik-turun dan hampir tidak berubah pada hari ini. Dalam dua sesi sebelumnya, indeks dolar sudah melemah sekitar 0,7% karena pasar mulai meragukan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini.
Sebelumnya, dolar sempat mendapat dukungan setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran. Presiden Donald Trump juga berjanji akan meningkatkan serangan sampai Teheran berhenti menyerang kapal di Selat Hormuz dan bersedia membuka kembali jalur pelayaran tersebut.
Namun, penguatan dolar masih tertahan karena investor juga menunggu data retail sales AS bulan Juni. Data ini penting untuk melihat seberapa kuat konsumsi masyarakat Amerika dan bagaimana pengaruhnya terhadap prospek kebijakan suku bunga The Fed. Yield Treasury AS tenor 10 tahun naik dua basis poin ke level 4,57%.
Di pasar mata uang, GBP/USD turun 0,2% ke 1,3515 setelah sebelumnya melonjak 1,1% pada Rabu, kenaikan harian terbesar dalam empat bulan. Pound sempat mendapat dukungan setelah data menunjukkan ekonomi Inggris tumbuh secara mengejutkan pada Mei. Sementara itu, USD/JPY turun tipis ke 162,12 dan EUR/USD bergerak stabil di sekitar 1,1466.
Dampaknya ke market, dolar masih berada di posisi tarik-menarik. Data inflasi AS yang lebih jinak menekan peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, tetapi konflik Hormuz dan kenaikan yield masih memberi penahan bagi pelemahan dolar. Jika retail sales AS kuat, dolar bisa kembali mendapat dukungan, tetapi jika data melemah, tekanan terhadap greenback berpotensi berlanjut. (arl)
Sumber: Newsmaker.id