Dolar AS Menguat, Pasar Cermati Pembicaraan Damai AS-Iran
Dolar Amerika Serikat menguat pada perdagangan Senin (22/6/2026), seiring investor merespons positif putaran pertama pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss. Indeks dolar bergerak di sekitar level 101, didukung optimisme bahwa kedua negara mulai membangun dasar menuju kesepakatan akhir, meskipun sejumlah risiko geopolitik masih membayangi pasar.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut pembicaraan dengan pejabat Iran telah membentuk fondasi yang baik untuk kesepakatan damai. Namun, pasar belum sepenuhnya tenang karena ketegangan di Selat Hormuz dan Lebanon masih menjadi titik rawan. Harga minyak ikut melemah setelah pasar melihat peluang pemulihan pasokan energi dari Timur Tengah, dengan WTI turun ke sekitar US$74 per barel dan Brent melemah ke kisaran US$77 per barel.
Penguatan dolar juga ditopang oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang mempertahankan kebijakan moneter ketat. Setelah pertemuan The Fed pekan lalu, pelaku pasar mulai meningkatkan perkiraan kenaikan suku bunga pada tahun ini. Sejumlah lembaga keuangan besar, termasuk Deutsche Bank dan Bank of America, bahkan mulai memasukkan skenario kenaikan suku bunga dalam proyeksi terbaru mereka.
Di Eropa, euro melemah terhadap dolar AS karena pasar menilai arah kebijakan The Fed masih lebih hawkish dibandingkan European Central Bank. Sementara itu, pound sterling sempat tertekan setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan rencana pengunduran diri. Namun, sterling kemudian pulih dalam perdagangan yang volatil karena investor menilai transisi kepemimpinan Inggris masih dapat berjalan terkendali.
Yen Jepang kembali menjadi perhatian setelah melemah ke sekitar 161 per dolar AS. Level ini mendekati ambang yang dapat membawa yen ke posisi terlemah sejak 1986. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan bahwa otoritas siap merespons pergerakan mata uang kapan saja, sehingga pasar mulai mewaspadai kemungkinan intervensi dari Tokyo.
Ke depan, fokus investor akan tertuju pada data inflasi Amerika Serikat, terutama indeks harga Personal Consumption Expenditures atau PCE yang menjadi indikator favorit The Fed. Jika inflasi masih kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat semakin meningkat dan memberi dukungan tambahan bagi dolar AS. Namun, jika data menunjukkan tekanan harga mulai mereda, penguatan greenback berpotensi tertahan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id