Dolar Stabil Jelang Debut Kebijakan Fed di Bawah Warsh
Dolar AS bergerak stabil terhadap sebagian besar mata uang utama pada Rabu (17/6), saat investor menunggu keputusan kebijakan Federal Reserve pertama di bawah Ketua Kevin Warsh. Pasar menilai pertemuan ini dapat memicu volatilitas karena investor mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap gaya komunikasi dan arah kebijakan baru The Fed.
Euro bergerak datar di $1,1605, sementara pound melemah tipis terhadap dolar ke $1,3420 dan terhadap euro ke 86,5 pence. Tekanan pada sterling muncul setelah data inflasi Inggris lebih rendah dari perkiraan, memberi ruang bagi Bank of England untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga tahun ini.
Fokus utama tetap berada pada The Fed. Bank sentral AS secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan perdana Warsh. Namun, pernyataan kebijakan, proyeksi ekonomi, konferensi pers, dan dot plot akan dicermati untuk melihat apakah The Fed mulai menghapus bias pelonggaran di tengah meningkatnya perhatian terhadap risiko inflasi.
Pasar uang saat ini mencerminkan peluang sekitar 80% bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga tahun ini. Sebelum AS dan Iran mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang di Timur Tengah, sebagian ekonom memperkirakan The Fed akan membuka ruang kenaikan suku bunga guna membatasi dampak lonjakan energi terhadap inflasi yang lebih luas. Namun, dengan harga minyak kembali di bawah $80 per barel, nada kebijakan dapat menjadi lebih seimbang.
Bank of England juga akan mengumumkan keputusan pada Kamis, dengan pasar memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga. Data terbaru menunjukkan inflasi Inggris bertahan di 2,8% pada Mei, tidak berubah dari level terendah 13 bulan pada April. Saat ini, pasar masih melihat peluang satu kali kenaikan suku bunga BoE hingga akhir tahun.
Di Asia, yen berada di 160,25 per dolar, sedikit menguat tetapi masih cukup lemah untuk menjaga kewaspadaan terhadap potensi intervensi otoritas Jepang. Bank of Japan pada Selasa menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun sebagai bagian dari normalisasi kebijakan, tetapi belum memberi petunjuk jelas mengenai waktu kenaikan berikutnya.
Krona Swedia melemah terhadap dolar dan euro setelah Riksbank mempertahankan suku bunga. Bank sentral Swedia menyebut perang di Timur Tengah meningkatkan tekanan inflasi dan memperbesar peluang kenaikan suku bunga, tetapi inflasi dasar yang rendah dan aktivitas ekonomi yang lebih lemah membuat arah kebijakan tetap hati-hati. Fokus pasar valas berikutnya tertuju pada bahasa pernyataan Fed, dot plot, arah harga minyak, serta respons dolar terhadap komunikasi pertama Warsh. (arl)
Sumber : Newsmaker.id