Dolar Stabil di Level Tertinggi Enam Minggu, Tekanan Inflasi dan Negosiasi Iran Jadi Sorotan
Nilai Dolar AS bertahan mendekati level tertinggi enam minggu pada Jumat (22/5), didorong oleh spekulasi terkait kemungkinan kesepakatan jangka pendek untuk mengakhiri perang Timur Tengah dan potensi Federal Reserve menaikkan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Indeks Dolar (DXY) naik tipis 0,04% ke 99,24, sementara euro turun 0,06% ke $1,1611 dan pound menguat 0,11% ke $1,3444.
Perkembangan diplomatik dan risiko energi:
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan kemajuan menuju kesepakatan dengan Iran meski “belum selesai.”
Iran dan AS masih berselisih terkait stok uranium dan kontrol atas Selat Hormuz.
Ongoing gangguan pasokan energi diperkirakan akan menekan harga konsumen, meningkatkan kemungkinan kebijakan moneter lebih ketat.
Inflasi dan sentimen konsumen:
Survei University of Michigan mencatat sentimen konsumen AS turun ke level terendah sepanjang masa di Mei, terdorong kenaikan harga bensin dan ekspektasi inflasi yang meningkat.
Gubernur Fed Christopher Waller mendukung penghapusan bahasa “easing bias” pada pernyataan kebijakan bank sentral, membuka peluang untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Dampak pada mata uang global:
Yen Jepang (USDJPY) melemah 0,1% ke 159,11, tetap rentan meski Tokyo melakukan intervensi beberapa minggu lalu.
Dolar Australia (AUDUSD) turun 0,15% ke $0,7136, terdampak kekurangan jet fuel dan diesel yang menekan sektor industri.
Bank sentral lain, termasuk ECB, kemungkinan bergerak lebih agresif dibandingkan Bank of Japan, membuat yen kurang menarik bagi investor yang mencari imbal hasil.
Analis mata uang memperingatkan bahwa fundamental global, terutama resolusi konflik Iran dan harga energi, akan menentukan arah mata uang utama dalam beberapa minggu mendatang.(yds)
Sumber: Newsmaker.id