Dolar Menguat Tipis, Pasar Beralih ke Risiko Jelang Rangkaian Keputusan Bank Sentral
Dolar AS bergerak lebih tenang pada Rabu setelah pelemahan harga minyak memunculkan sedikit selera risiko di pasar menjelang rangkaian keputusan bank sentral utama. Meski demikian, greenback masih dipandang sebagai aset lindung nilai yang paling menonjol di tengah krisis Timur Tengah yang memasuki pekan ketiga.
Indeks dolar naik tipis 0,06% ke 99,61 setelah dua hari melemah. Euro turun 0,05% ke US$1,1532, setelah menguat dalam dua sesi sebelumnya, sementara pasar menanti dimulainya pertemuan dua hari Bank Sentral Eropa (ECB).
Pergerakan yen tetap rapuh di area yang sebelumnya memicu kekhawatiran intervensi Tokyo. Yen melemah tipis 0,01% ke 159,00 per dolar, menjelang agenda Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang akan berangkat untuk pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di Washington.
Harga minyak yang mereda turut menahan penguatan dolar, setelah laporan yang mengutip data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan minyak mentah AS. Analis menilai jeda kenaikan minyak memberi ruang pemulihan sentimen lintas aset, meski risiko geopolitik belum mereda.
Fokus pasar mengarah pada keputusan suku bunga Federal Reserve pada Rabu, disusul ECB, Bank of England, dan Bank of Japan sehari setelahnya, yang secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga. Pelaku pasar akan mencermati komentar terkait inflasi dan prospek ekonomi di tengah ketidakpastian akibat perang AS-Israel dengan Iran, sementara ekspektasi pelonggaran The Fed tahun ini menyusut menjadi sekitar 25 basis poin.
Di pasar lain, sterling relatif stabil di US$1,3355, sedangkan dolar Australia menguat 0,1% ke US$0,7109 dan dolar Selandia Baru naik 0,05% ke US$0,586. Pergeseran ekspektasi kebijakan juga terlihat di Eropa, dengan pasar kini memperhitungkan lebih dari satu kenaikan suku bunga ECB pada 2026, berbalik dari peluang pemangkasan yang sempat diperkirakan sebelum konflik meningkat.(asd)
Sumber: Newsmaker.id