Dolar Melemah Tipis, Pasar Fokus Rapat Bank Sentral dan Risiko Hormuz
Indeks dolar AS melemah pada Senin (16/3) ketika reli greenback mengambil jeda di tengah fokus pasar pada perang Iran dan rangkaian rapat bank sentral pekan ini. DXY turun 0,5% ke 99,87 pada 09:46 ET, sementara euro menguat ke US$1,1473 dan pound naik ke US$1,3278.
Perhatian utama tertuju pada keputusan kebijakan Federal Reserve, ECB, BOJ, dan BOE yang dijadwalkan pekan ini. Pelaku pasar menilai lonjakan harga minyak sejak pecahnya konflik kembali membuka risiko inflasi, terutama jika gangguan pasokan dari kawasan produsen utama berlanjut melalui Selat Hormuz—jalur yang menangani sekitar seperlima aliran minyak dunia.
Kanal transmisi utamanya adalah energi ke inflasi: minyak yang lebih mahal berpotensi menahan pelonggaran kebijakan dan menjaga biaya pinjaman tinggi lebih lama. Kondisi ini pada prinsipnya bisa mendukung dolar lewat diferensial suku bunga dan arus modal, namun pada sesi ini dolar melemah karena pasar cenderung menunggu kejelasan hasil rapat bank sentral serta perkembangan konkret di Hormuz sebelum menambah posisi.
Di sisi geopolitik, Presiden Donald Trump mendorong pembentukan koalisi angkatan laut untuk membuka kembali Hormuz dan menyebut NATO seharusnya membantu, meski belum ada konfirmasi negara mana yang menyetujui permintaan itu. Trump juga mengisyaratkan tekanan ke China, termasuk ancaman membatalkan rencana pertemuan dengan Presiden Xi Jinping jika Beijing tidak menggunakan pengaruhnya untuk membantu membuka selat. Laporan media menyebut sebagian tanker yang menuju China dapat melintas, sementara kapal lain terkena proyektil.
Ke depan, pasar akan memantau sinyal bank sentral terkait respons terhadap inflasi energi, arah harga minyak dan kelancaran pelayaran di Hormuz, serta langkah koordinasi internasional (termasuk opsi Uni Eropa) untuk memulihkan pengiriman. Perkembangan ini akan menentukan apakah jeda pelemahan dolar berlanjut atau reli kembali menguat. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id