Emas Naik Tipis, Dolar dan Yield Melemah Namun Inflasi Energi Batasi Reli
Emas (XAU/USD) menguat tipis pada Senin (16/3) setelah berbalik dari pelemahan intraday, terbantu meredanya dolar AS dan imbal hasil Treasury usai reli sebelumnya. XAU/USD diperdagangkan di sekitar US$5.030 setelah sempat turun ke US$4.967, level terendah lebih dari tiga pekan.
Namun, kekhawatiran inflasi yang didorong lonjakan minyak akibat perang AS-Iran menahan ruang kenaikan emas, karena pasar menilai bank sentral berisiko mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Gangguan pelayaran di Selat Hormuz tetap menjadi fokus ketika konflik memasuki pekan ketiga, dengan Brent naik sekitar 33% dan WTI sekitar 37% dari level pra-konflik, menjaga risiko stagflasi tetap hidup.
Di sisi geopolitik, AS melancarkan serangan udara ke Pulau Kharg yang menargetkan situs militer, sementara Presiden Donald Trump memperingatkan kemungkinan serangan ke infrastruktur minyak Iran jika Teheran mengganggu pelayaran. Iran menyebut Hormuz akan ditutup hanya untuk “musuh” dan pihak yang mendukung agresi, memperpanjang ketidakpastian jalur pasokan energi global.
Ekspektasi pemangkasan The Fed ikut menyusut. Probabilitas pemangkasan 25 bps pada Juni turun ke 23,6% dari 51,2% sebulan lalu (CME FedWatch), dan pasar kini cenderung mem-price in hanya satu pemangkasan hingga akhir tahun. Ini menjadi hambatan bagi emas karena suku bunga yang bertahan tinggi meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil.
Fokus pekan ini tertuju pada keputusan The Fed Rabu, yang diperkirakan menahan suku bunga di 3,50%-3,75%, serta panduan Jerome Powell, SEP, dan dot plot untuk membaca respons kebijakan terhadap guncangan energi. Keputusan bank sentral besar lain—BoE, ECB, BoJ, BoC, dan RBA—juga akan memengaruhi arah dolar, yield, dan selera risiko yang menjadi penentu pergerakan emas. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id