Dolar Coba Menguat, Yen Tertekan Data Pertumbuhan Lemah
Dolar AS coba bangkit walau dengan kenaikan tipis pada Senin (16/2), tapi pergerakannya serba “nanggung” di tengah likuiditas yang menipis karena libur di AS dan sebagian besar Asia. Indeks Dolar naik 0,1% ke 96,860 pada 03:55 waktu timur AS (08:55 GMT), setelah pekan lalu tertekan 0,8%.
Sentimen utama masih berasal dari data inflasi AS yang lebih lembut pada Jumat, yang membuka ruang bagi The Fed untuk kembali memangkas suku bunga di paruh kedua tahun ini—terutama karena pasar juga mulai memasukkan skenario Kevin Warsh berpeluang menjadi Ketua The Fed pada Mei. Namun, data tenaga kerja pekan lalu masih cukup solid, membuat urgensi “cut cepat” belum terlihat. Kontrak berjangka kini mem-price-in total pelonggaran sekitar 62 bps hingga akhir tahun, dengan peluang pemangkasan berikutnya pada Juni diperkirakan sekitar 68%.
ING menilai dolar masih menanggung “bekas luka” dari episode “sell America” pertengahan Januari—mirip pola musim panas 2025. Bahkan setelah rilis payrolls yang kuat, reli dolar dinilai hanya sebentar dan terbatas: data bagus sempat memicu repricing yang lebih hawkish, tapi dorongan ke dolar cepat pudar.
Fokus pekan ini akan bergeser ke sederet data besar: ADP jobs pada Selasa, risalah rapat FOMC pada Rabu, lalu paket data kunci pada Jumat—core PCE Desember dan GDP kuartal IV.
Di Eropa, EUR/USD turun 0,1% ke 1,1861 menjelang rilis produksi industri Zona Euro. Ekonomi Eurozone sendiri tercatat tumbuh 0,3% pada kuartal IV 2025 (annual rate 1,4%). ING melihat kalender Eropa makin ramai dengan ZEW (Selasa) dan PMI (Jumat), tetapi dampaknya ke euro diperkirakan terbatas. Mereka menilai penembusan di bawah 1,180 lebih mungkin terjadi ketimbang lonjakan ke 1,20 pekan ini.
Sterling juga belum meyakinkan: GBP/USD naik tipis ke 1,3653, namun tetap rapuh karena ketidakpastian politik Inggris. ING menyoroti pasar taruhan yang masih menilai peluang PM Keir Starmer mundur sebelum akhir Juni cukup besar (sekitar 70%).
Pound berpotensi kembali kena “shock” setiap kali posisi politik Starmer melemah, sementara data UK yang penting akan datang lewat laporan tenaga kerja (Selasa) dan inflasi (Rabu).
Dari Asia, yen melemah setelah data pertumbuhan Jepang mengecewakan. USD/JPY naik 0,4% ke 153,27, menyusul GDP kuartal IV yang hanya tumbuh 0,2% (annualised)—jauh di bawah ekspektasi 1,6%. Angka ini memberi sinyal stimulus fiskal akhir 2025 belum banyak mengangkat ekonomi, sehingga pemerintahan PM Sanae Takaichi kemungkinan perlu membuka keran belanja lebih besar, apalagi koalisinya memiliki jalur legislasi yang kuat usai menang supermayoritas di DPR.
Sementara itu, USD/CNY naik tipis ke 6,9087 di perdagangan yang sepi karena bursa China libur sepekan. AUD/USD menguat 0,2% ke 0,7088, menjaga posisi dekat puncak tiga tahun setelah sinyal hawkish dari Reserve Bank of Australia pekan lalu.(yds)
Sumber: Newsmaker.id