Dolar Datar, Volatilitas Menunggu Trigger
Dolar AS masih melemah terhadap yen di sesi Eropa hari Selasa (10/2), dengan pasar masih kebawa euforia politik Jepang setelah kemenangan telak PM Sanae Takaichi. USD/JPY terakhir di sekitar 155,52—artinya yen menguat sekitar 0,23% hari ini, melanjutkan lonjakan sebelumnya. Yen juga sempat jadi sorotan karena sebelumnya mendekati area 160 per dolar, level yang sering bikin pasar mulai bisik-bisik soal potensi intervensi.
Yang bikin yen makin “dipercaya” bukan cuma soal intervensi, tapi juga soal arah kebijakan. Paket pro-growth Takaichi (pemotongan pajak + belanja fiskal) dinilai bisa dorong ekonomi—dan kalau tekanan inflasi ikut naik, ekspektasi pasar terhadap BoJ yang lebih agresif juga ikut menguat. Sementara itu, dolar relatif flat jelang rilis data ekonomi AS yang penting (tenaga kerja & inflasi) yang sempat tertunda gara-gara shutdown singkat.
Di Eropa, euro cenderung stabil setelah lompatan tajam sehari sebelumnya. EUR/USD bertahan di sekitar 1,1906, usai naik sekitar 0,85% pada Senin. Dari sisi “barometer dolar”, DXY juga nyaris tidak bergerak di sekitar 96,90 (masih dekat level terendah sepekan). Intinya: pasar belum mau ambil posisi besar sebelum data keluar.
Sementara itu, yuan China ikut menguat dan tembus di bawah/sekitar 6,91 per dolar—momen yang jadi perhatian karena disebut sebagai penguatan ke level itu untuk pertama kalinya sejak 2023. Narasinya: kombinasi kebutuhan konversi musiman korporasi + sinyal fixing yang lebih kuat dari bank sentral, ditambah rumor dorongan diversifikasi dari aset AS.
Di mata uang komoditas, geraknya justru menahan: AUD turun sekitar 0,3% ke 0,7070, dan NZD juga turun sekitar 0,3% ke 0,60395—lebih ke efek “ambil napas” setelah reli risk-on sebelumnya. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id