Awal Pekan Tegang: Dolar Stabil, Yen & Aussie Tertekan
Dolar AS masih bertahan kuat pada Senin (2/2), saat pelaku pasar mulai “mengukur” seperti apa arah Federal Reserve jika benar dipimpin Kevin Warsh. Di saat yang sama, koreksi tajam di logam mulia dan minyak ikut menekan mata uang-mata uang komoditas—membuat awal pekan terasa lebih tegang dan penuh agenda besar.
Tekanan dari komoditas tidak berhenti di situ. Pelemahan harga merembet ke pasar saham Asia dan Eropa, menandakan sentimen risk-off belum benar-benar hilang. Pekan ini juga padat katalis: ada rangkaian pertemuan bank sentral, rilis data ekonomi kelas berat, sampai pemilu Jepang yang mulai jadi fokus baru trader global.
Di pasar valas, yen kembali jadi sorotan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyinggung “manfaat yen lemah” dalam pidato kampanyenya pada akhir pekan, nada yang dinilai bertabrakan dengan upaya kementerian keuangan Jepang yang selama ini berusaha menahan pelemahan yen. Kombinasi komentar tersebut dan isu pemilu membuat yen kembali rentan ditekan.
Indeks dolar (DXY) terakhir berada di sekitar 97,21, relatif stabil setelah reli sekitar 1% pada Jumat yang dipicu kabar Trump memilih Warsh sebagai calon ketua The Fed berikutnya. Pasar menilai Warsh cenderung tidak akan mendorong pemangkasan suku bunga secara cepat seperti skenario yang sempat diharapkan sebagian investor—walau tetap ada perdebatan, karena ia juga dipandang lebih “lunak” dibanding ketua saat ini Jerome Powell.
Sementara itu, euro dan pound bergerak terbatas. EUR/USD tertahan di sekitar 1,1852, cukup jauh dari level 1,20 yang sempat terlihat sebelumnya. GBP/USD juga cenderung datar di sekitar 1,3690. Fokus pasar tertuju ke keputusan ECB dan Bank of England pada Kamis, yang secara umum diperkirakan masih menahan suku bunga.
Di kelompok mata uang komoditas, tekanan terlihat lebih jelas. Dolar Australia sempat turun hingga 0,7% ke 0,6908 sebelum membaik, menjelang keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia pada Selasa—meski pasar masih banyak yang memperkirakan kenaikan suku bunga. Dolar Selandia Baru sempat turun ke 0,5991, sementara dolar Kanada melemah tipis.
Untuk yen, pelemahan bertahan di sekitar 154,90 per dolar, ikut dipengaruhi ekspektasi bahwa partai Takaichi berpeluang menang besar. Survei Asahi menyebut LDP bisa melampaui mayoritas, yang memicu spekulasi kebijakan fiskal lebih ekspansif dan pemotongan pajak—dua hal yang bisa menambah kekhawatiran pasar pada kondisi fiskal Jepang. Meski begitu, yen masih punya “rem” alami: trader tetap waspada pada risiko intervensi jika pelemahan bergerak terlalu cepat, apalagi setelah wacana koordinasi AS–Jepang sempat mencuat belakangan ini. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id