Dolar Lanjut Menguat, Yen Melemah Usai Komentar Sanae Takaichi
Dolar AS melanjutkan penguatan terhadap mayoritas mata uang Group-of-10 (G10), seiring tekanan jual di logam mulia yang makin dalam. Meski begitu, laju dolar sempat sedikit mereda dari level tertingginya pada awal perdagangan sesi Asia.
Dua mata uang yang paling terasa terpukul adalah yen Jepang dan dolar Australia, masing-masing turun sekitar 0,2% terhadap dolar AS. Yen melemah setelah Takaichi “meluruskan” komentarnya soal yen yang lemah, dengan menyebut pelemahan yen sebagai “peluang besar” bagi industri berorientasi ekspor.
Di sisi lain, dolar Australia ikut tertekan karena sentimen komoditas memburuk. Pasangan AUD/USD sempat turun hingga 0,6% ke 0,6921, sejalan dengan harga emas dan perak yang masih melanjutkan penurunan pada hari Senin.
Fokus pasar paling panas ada di perak. Harga perak kembali turun sekitar 12% pada Senin setelah sebelumnya sempat anjlok sangat tajam pada Jumat, dipicu oleh perubahan ekspektasi pasar usai nominasi Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed. Pergerakan ekstrem ini membuat volatilitas di aset terkait makin “liar” dan menekan sentimen komoditas secara luas.
Menurut Chris Weston dari Pepperstone, perhatian pasar “secara alami” tetap tertuju pada perak, emas, dan dolar AS. Ia menilai pergerakan pasangan perak–dolar bahkan menjadi contoh perdagangan di pasar yang tidak berjalan normal karena likuiditas dan positioning yang ekstrem.
Dari sisi teknikal, USD/JPY disebut sedang berkonsolidasi di area Ichimoku cloud harian. Namun, momentum bullish yang mulai membaik dari kondisi oversold membuka peluang penguatan lanjutan jika dorongan beli berlanjut. Sementara itu, NZD/USD relatif datar di 0,6023, EUR/USD stabil di 1,1854, dan GBP/USD nyaris tidak berubah di 1,3689.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id