Dolar Mulai “Napas”, Tapi Pasar Masih Tegang Jelang Fed
Dolar AS mulai menemukan pijakan pada Rabu sore (28/1) pasca mengalami aksi jual tajam, dengan Presiden AS Donald Trump terlihat santai menanggapi pelemahan terbaru mata uang tersebut. Di saat yang sama, laporan kinerja perusahaan yang cukup solid membuat saham global bertahan dekat rekor tertinggi, sementara perhatian pasar mengunci ke keputusan suku bunga Federal Reserve.
Meski dolar bergerak menjauh dari level terendah empat tahun, sentimen pasar masih rapuh. Ini menyusul aksi jual paling tajam sejak gejolak tarif Trump mengguncang pasar pada April lalu. Bursa saham Eropa melemah, tetapi kontrak berjangka saham AS mengarah ke pembukaan yang positif di Wall Street. Di Asia, Nikkei Jepang naik tipis, sementara indeks saham dunia (MSCI World) masih bertahan di sekitar rekor.
Analis Nordea, Jan von Gerich, menilai situasi sekarang lebih spesifik menjadi “cerita dolar”, bukan lagi pelarian besar-besaran dari aset AS seperti pekan lalu. Ia menyoroti satu hal penting: pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell malam ini bisa saja menyinggung tekanan politik—sesuatu yang selama ini dihindari Powell.
The Fed sendiri diperkirakan menahan suku bunga. Namun rapat kali ini dibayangi isu politik yang sensitif: adanya investigasi kriminal terhadap Powell, upaya yang berkembang untuk memecat Gubernur Fed Lisa Cook, serta rencana penunjukan pengganti Powell yang masa jabatannya disebut berakhir pada Mei.
Di pasar valas, Dollar Index (mengukur dolar terhadap enam mata uang utama) naik 0,25% ke 96,16 setelah sehari sebelumnya anjlok lebih dari 1% hingga menyentuh level terendah empat tahun. Trump menyebut nilai dolar “great” saat ditanya apakah dolar sudah turun terlalu jauh. Meski komentar itu bukan hal baru, pasar menangkapnya sebagai sinyal bahwa pemerintah tidak keberatan dolar melemah—membuat para pelaku pasar makin berani menekan dolar, apalagi di tengah spekulasi potensi intervensi terkoordinasi AS–Jepang untuk menstabilkan yen.
Pelemahan dolar sebelumnya sempat mengangkat euro menembus $1,20 untuk pertama kalinya sejak 2021, mendorong dolar Australia ke atas 70 sen (level tertinggi tiga tahun), mengerek emas ke puncak baru, dan ikut mengangkat harga komoditas yang dihitung dalam dolar.
Menurut Steve Englander dari Standard Chartered, biasanya pejabat akan menahan pergerakan mata uang yang terlalu mendadak—tapi ketika presiden terlihat “tidak peduli” atau bahkan seolah mendukung, penjual dolar jadi makin agresif.(yds)
Sumber: Newsmaker.id