Minyak Naik Lagi, Risiko Gangguan Pasokan AS Masih Membayangi
Harga minyak melanjutkan penguatan pada Rabu (28/1), seiring kekhawatiran pasokan yang belum reda setelah badai musim dingin mengganggu produksi minyak mentah dan ekspor Amerika Serikat. Ketegangan di Timur Tengah juga ikut memberi dukungan tambahan. Kontrak berjangka Brent naik 11 sen atau 0,2% menjadi $67,68 per barel pada pukul 07:25 GMT, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS naik 19 sen atau 0,3% menjadi $62,58 per barel. Keduanya sempat melonjak sekitar 3% pada Selasa.
Menurut perkiraan analis dan pelaku pasar, produsen AS kehilangan hingga 2 juta barel per hari atau sekitar 15% dari total produksi nasional selama akhir pekan, setelah badai menekan infrastruktur energi dan jaringan listrik. Ekspor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari pelabuhan Gulf Coast AS bahkan sempat turun ke nol pada Minggu, menurut layanan pelacakan kapal Vortexa. Selain AS, berkurangnya produksi di Kazakhstan juga ikut menopang reli, kata Toshitaka Tazawa, analis Fujitomi Securities. Namun ia mengingatkan, “begitu kekhawatiran pasokan mereda, tekanan jual kemungkinan akan kembali muncul.” Tazawa menambahkan, dengan proyeksi surplus pasokan minyak global tahun ini—di tengah risiko geopolitik termasuk ketegangan Timur Tengah—WTI kemungkinan masih cenderung bergerak di sekitar $60 per barel untuk sementara.
Dari Kazakhstan, ladang minyak terbesar negara itu, Tengiz, diperkirakan hanya mampu memulihkan kurang dari setengah produksi normalnya hingga 7 Februari saat proses pemulihan berjalan pelan pascakebakaran dan pemadaman listrik, menurut dua sumber yang mengetahui situasi tersebut. Namun, hal itu sebagian diimbangi pernyataan operator pipa CPC—yang menangani sekitar 80% ekspor minyak Kazakhstan—bahwa kapasitas pemuatan di terminal Laut Hitam telah kembali penuh setelah perawatan di salah satu dari tiga titik sandar selesai.
Kekhawatiran pasokan bertahan di tengah tensi Timur Tengah
Dua pejabat AS mengatakan pada Senin bahwa sebuah kapal induk AS beserta kapal-kapal pendukung telah tiba di Timur Tengah. Langkah ini menambah opsi Presiden Donald Trump untuk melindungi pasukan AS, atau berpotensi mengambil tindakan militer terhadap Iran. Analis ANZ menilai situasi tersebut meningkatkan peluang Trump menindaklanjuti ancamannya untuk menyerang pimpinan senior Iran sebagai respons atas penindakan keras terhadap demonstrasi nasional. Di sisi pasokan, OPEC+ (OPEC bersama Rusia dan sekutunya) diperkirakan akan mempertahankan jeda kenaikan produksi untuk Maret dalam pertemuan pada 1 Februari, menurut tiga delegasi OPEC+.
Pelaku pasar juga mencermati arah persediaan energi AS. Survei Reuters memperkirakan stok minyak mentah dan bensin AS naik pada pekan yang berakhir 23 Januari, sementara persediaan distilat (seperti diesel) diperkirakan turun. Namun sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute (API) menyebutkan stok minyak mentah dan bensin justru turun pekan lalu, sedangkan persediaan distilat meningkat.(yds)
Sumber: Newsmaker.id