Aliran Keluar dari Aset Dolar, Emas Jadi Pelarian Utama
Emas masih “betah” di atas level psikologis $5.000 untuk hari kedua. Dorongannya datang dari kombinasi klasik: ketidakpastian geopolitik, kekhawatiran kebijakan, dan investor yang mulai menjauh dari obligasi serta mata uang negara.
Dolar yang melemah ikut jadi bensin tambahan yang membuat emas mencetak rekor baru lagi di $5.151 troy ons pada perdagangan hari Selasa (27/1). Saat greenback loyo, logam mulia jadi terasa “lebih murah” bagi pembeli global—dan itu biasanya bikin permintaan emas makin tebal.
Di belakang layar, pasar kembali ramai membahas “debasement trade”: pola ketika pelaku pasar mengurangi eksposur ke aset berbasis mata uang/obligasi dan beralih ke aset riil seperti emas. Aksi jual di pasar obligasi (termasuk Jepang) ikut menguatkan narasi bahwa investor sedang makin sensitif terhadap beban fiskal dan risiko kebijakan.
Situasi makin panas karena agenda tarif Trump kembali memicu gelombang defensif. Setelah sinyal keras terkait Kanada, muncul lagi ancaman kenaikan tarif untuk Korea Selatan—membuat premi ketidakpastian tertanam lebih dalam di harga safe haven.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menahan diri jelang keputusan The Fed. Meski ekspektasinya suku bunga ditahan, perhatian besar ada pada nada Powell dan isu independensi bank sentral—karena perubahan ekspektasi suku bunga/likuiditas biasanya cepat merembet ke emas.
Perak ikut “ngegas” lebih liar dari emas. Selain faktor safe haven, perak sering terseret arus spekulatif karena pasarnya lebih “tipis”, sehingga ketika demand naik, geraknya bisa lebih meledak dan lebih volatil. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id