Emas Tembus $5300 untuk Pertama Kali, Dolar “Ambruk” Jelang Fed
Harga emas dunia melanjutkan reli tajam dan menembus $5.300 untuk pertama kalinya pada Rabu (28/1), didorong kejatuhan dolar AS yang meluncur ke level hampir terendah empat tahun. Spot gold naik 2,3% ke $5.305,65 per ons pada pukul 08:32 GMT, setelah sempat mencetak rekor baru di $5.311,31. Sejak awal tahun, emas sudah melonjak lebih dari 20%.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari juga ikut “ngegas”, naik 4,3% ke $5.301,90 per ons. Dorongan utama datang dari pelemahan dolar yang membuat emas berdenominasi greenback jadi lebih menarik bagi pembeli luar AS.
Pasar menilai dolar sedang mengalami semacam “krisis kepercayaan”, apalagi setelah Presiden Donald Trump mengatakan nilai mata uang itu “great” saat ditanya apakah dolar sudah turun terlalu jauh—komentar yang justru memicu aksi jual dolar berlanjut.
Kelvin Wong, analis senior di OANDA, menilai kenaikan emas kali ini dipicu korelasi negatif yang kuat dengan dolar, ditambah sinyal tersirat bahwa Gedung Putih mungkin lebih nyaman dengan dolar yang lebih lemah ke depan. Trump juga mengatakan akan segera mengumumkan pilihannya untuk memimpin The Fed, dan memprediksi suku bunga akan turun setelah ketua baru mulai menjabat—narasi yang makin menambah spekulasi pasar.
Di sisi lain, pasar juga terlihat makin defensif menjelang pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell. Ilya Spivak, head of global macro di Tastylive, menyebut ketegangan antara mandat The Fed dan kepentingan Gedung Putih membuat investor memilih posisi aman dulu sebelum arah kebijakan benar-benar jelas. The Fed sendiri diperkirakan luas akan menahan suku bunga pada pertemuan Januari yang sedang berlangsung. Dalam iklim suku bunga rendah, emas—yang tidak memberikan imbal hasil—biasanya lebih diuntungkan.
Di logam mulia lain, perak naik 1,5% ke $114,68 per ons, setelah mencetak rekor $117,69 pada Senin, dan telah melonjak hampir 60% sepanjang tahun ini.
Platinum naik 2,3% ke $2.703,11, sementara palladium menguat 2,2% ke $1.976,62. Sementara itu, Deutsche Bank menyebut emas berpotensi menuju $6.000 per ons pada 2026, dengan alasan permintaan investasi yang tetap kuat karena bank sentral dan investor meningkatkan alokasi ke aset non-dolar dan aset berwujud.
Source: Newsmaker.id