Perak Anjlok 6% Saat Pasar Mengantisipasi Suku Bunga
Harga perak turun 6% ke US$79 per ounce pada Jumat (15/05), memperpanjang penurunan untuk sesi kedua berturut-turut. Pelemahan terjadi saat pasar merespons kombinasi kekhawatiran inflasi AS yang kembali menguat dan meningkatnya spekulasi bahwa suku bunga bisa bertahan tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan.
Pemicu utamanya datang dari data harga di AS yang menunjukkan tekanan inflasi dari sisi hulu makin kuat. Pada April, harga produsen serta harga impor dan ekspor dilaporkan naik pada laju tercepat sejak 2022. Inflasi tahunan juga disebut mencapai level tertinggi sejak 2023, dikaitkan dengan perang Iran yang berkepanjangan dan penutupan Selat Hormuz yang mengganggu jalur energi dan logistik.
Kondisi ini mengubah ekspektasi kebijakan moneter. Pasar kini sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, sementara sebagian pelaku pasar mulai memasang skenario kenaikan suku bunga pada Desember. Mekanismenya jelas: ketika ekspektasi suku bunga naik, imbal hasil aset berbunga cenderung lebih menarik dan dolar berpotensi menguat, sehingga menekan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Tekanan tambahan datang dari sisi fundamental perak. Strategis UBS memangkas proyeksi permintaan investasi setahun penuh dari di atas 400 juta ounce menjadi 300 juta ounce, seiring melemahnya penggunaan industri dan meningkatnya pasokan tambang. UBS juga memperkirakan defisit pasokan perak menyusut tajam ke sekitar 60–70 juta ounce, jauh lebih kecil dibanding estimasi sebelumnya sekitar 300 juta ounce, memperkuat persepsi bahwa ketatnya pasar perak tidak sekuat perkiraan awal. (asd)
Sumber: Newsmaker.id