Perak Koreksi, Pasar Cerna Reli Tajam dan Risiko Inflasi
Harga perak melemah ke sekitar US$85 per ons pada Selasa (12/5), berbalik arah setelah sempat menguat di awal sesi. Pergerakan ini terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah dan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz yang menjaga harga minyak tetap tinggi, sehingga risiko inflasi kembali menjadi fokus pasar.
Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata AS–Iran berada di “massive life support” setelah menolak proposal damai terbaru dari Teheran. Pernyataan tersebut memperbesar kekhawatiran bahwa jalur pelayaran strategis itu dapat tetap efektif terhambat dalam periode yang lebih panjang, memperkuat premi risiko energi dan menjaga sensitivitas pasar terhadap isu inflasi.
Pelaku pasar juga menanti rilis data inflasi konsumen AS untuk melihat seberapa besar konflik Iran mulai menekan harga secara lebih luas. Data ini dinilai penting karena akan memengaruhi ekspektasi suku bunga dan arah dolar, dua faktor yang sering membentuk dinamika harga logam mulia, termasuk perak.
Sehari sebelumnya, perak melonjak lebih dari 7% dan mencapai level tertinggi dalam sekitar dua bulan, mengungguli logam mulia lain. Kinerja itu didorong karakter perak yang tidak hanya berfungsi sebagai aset lindung nilai, tetapi juga memiliki porsi penggunaan industri yang besar, sehingga membaiknya ekspektasi permintaan fisik ikut memperkuat reli sebelum pasar melakukan aksi ambil untung.(asd)
Sumber: Newsmaker.id