Perak Bertahan, Geopolitik Timur Tengah dan Inflasi AS Jadi Fokus
Harga perak bertahan di atas US$88 per ons pada Rabu(11/3) setelah menguat selama tiga sesi beruntun, ditopang meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah konflik Timur Tengah yang dinilai masih sangat fluktuatif. Sentimen pasar tetap sensitif terhadap headline geopolitik, membuat logam mulia bergerak lebih defensif dibanding aset berisiko.
Kampanye AS-Israel melawan Iran memasuki hari ke-12. Pentagon melaporkan serangan paling intens sejauh ini dan menegaskan operasi akan berlanjut hingga Republik Islam dikalahkan, kontras dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut konflik dapat segera berakhir. Perbedaan nada ini memperlebar ketidakpastian dan menjaga minat pada aset safe-haven.
Di pasar energi, harga minyak tertahan oleh laporan bahwa IEA mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah untuk membantu menstabilkan pasar. Namun tekanan pasokan belum hilang karena produsen utama Timur Tengah memangkas produksi secara tajam menyusul Selat Hormuz yang tetap tertutup, menjaga premi risiko energi tetap relevan bagi narasi inflasi.
Kanal transmisi utama ke perak datang dari kombinasi dua faktor: geopolitik yang meningkatkan permintaan lindung nilai, dan dinamika energi yang dapat memengaruhi ekspektasi inflasi serta arah suku bunga. Ketika pasar menilai inflasi berpotensi lebih “lengket”, imbal hasil dan dolar bisa menjadi penyeimbang yang membatasi kenaikan logam, sehingga pergerakan perak cenderung ditentukan oleh tarik-menarik risk premium dan pricing suku bunga.
Selanjutnya, perhatian investor beralih ke rilis data inflasi AS yang penting untuk membaca arah tren harga terbaru. Pasar menilai data tersebut kemungkinan belum sepenuhnya menangkap dampak perang Iran, tetapi tetap krusial sebagai sinyal apakah tekanan harga inti mereda atau justru mempertahankan narasi suku bunga yang lebih tinggi lebih lama.(alg)
Sumber: Newsmaker.id