Minyak Turun Tipis, Reli Sudah Habis?
Harga minyak sedikit melemah pada Selasa karena pasar lebih fokus pada rencana OPEC+ untuk menaikkan produksi, dibanding euforia potensi deal dagang AS–Tiongkok. Brent kini berada di sekitar $65,59 per barel dan WTI di $61,26 per barel. Investor melihat dua arah: pasokan berpotensi bertambah, tapi permintaan global juga bisa menguat kalau tensi perdagangan mereda.
Sumber internal menyebut OPEC+ – yang berisi negara-negara OPEC dan sekutu seperti Rusia – condong untuk menambah produksi lagi pada Desember. Setelah beberapa tahun memangkas output untuk menopang harga, kelompok ini sudah mulai membalik strategi sejak April. Jika suplai terus dinaikkan sementara stok global masih longgar, itu jadi tekanan ke bawah untuk harga minyak.
Di sisi lain, ada faktor pendukung harga: harapan kesepakatan dagang baru antara AS dan Tiongkok. Kedua negara, yang juga dua konsumen minyak terbesar dunia, dijadwalkan bawa pembahasan ini ke level pemimpin langsung saat Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping bertemu Kamis ini di Korea Selatan. Pasar melihat, kalau hubungan dua negara ini mencair, prospek ekonomi global — dan konsumsi energi — ikut membaik.
Sanksi baru AS terhadap Rusia juga masih jadi bagian cerita. Pekan lalu, AS menargetkan perusahaan minyak besar Rusia seperti Lukoil dan Rosneft sebagai bagian dari tekanan terkait perang Ukraina. Itu sempat mendorong kenaikan minyak mingguan terbesar sejak Juni. Tapi sekarang pandangannya lebih tenang: banyak pelaku pasar menilai dampak sanksi ini mungkin hanya terasa jangka pendek. Dengan kapasitas pasokan global yang masih longgar, risiko kenaikan harga minyak yang liar dianggap terbatas.(Asd)
Sumber: Newsmaker.id