Minyak Turun, Pasar Timbang Permintaan AS & Prospek Pasokan
Harga minyak melemah pada Jumat karena kekhawatiran permintaan AS, meski masih di jalur kenaikan mingguan berkat pemangkasan suku bunga The Fed yang bisa mendongkrak konsumsi. Pada 08:50 GMT, Brent kontrak November turun ke $66,88/barel, sementara WTI melemah ke $62,61/barel.
Ketegangan Rusia–Ukraina tetap menjadi penopang karena berisiko mengganggu pasokan. Namun, Presiden AS Donald Trump mendorong harga minyak lebih rendah untuk menekan Moskow mengakhiri perang, seraya mendesak negara-negara berhenti membeli bahan bakar dari anggota OPEC+ tersebut—sentimen yang menahan reli.
Dari sisi makro, pasar minyak mendapat angin dari pemangkasan suku bunga The Fed dan sinyal pelonggaran lanjutan yang berpotensi menopang permintaan ke depan. Meski begitu, data AS menunjukkan stok distilat naik tajam, mengindikasikan permintaan melambat seiring berakhirnya musim berkendara musim panas. Pelemahan pasar kerja AS juga menjaga kehati-hatian.
Di sisi pasokan, ekspektasi tambahan suplai meningkat setelah Kazakhstan kembali menyalurkan minyak lewat pipa Baku–Tbilisi–Ceyhan awal September usai gangguan kontaminasi Agustus. Dari Afrika, Nigeria mencabut status darurat di Rivers State—pusat ekspor utama—yang dapat menurunkan risiko gangguan pasokan akibat ketegangan lokal.(ads)
Poin inti:
Brent $66,83 (-0,8%), WTI $62,63 (1%); masih berpeluang kenaikan mingguan.
Fed cut dukung demand, tapi stok distilat AS naik & data tenaga kerja melemah.
Ketegangan Rusia–Ukraina vs dorongan Trump turunkan harga tarik-menarik sentimen.
Pasokan: Kazakhstan pulihkan aliran BTC; Nigeria cabut darurat di Rivers State.
Sumber: Newsmaker.id