Minyak Naik Tipis: Kilang Rusia Diserang, Efek Rate Cut Pangkas
Harga minyak merayap naik dalam sesi yang bergejolak saat pelaku pasar menimbang dampak pemangkasan suku bunga The Fed dan risiko pasokan dari Rusia. WTI bertambah 0,5% dan bertahan di atas $63/barel, Brent $67/barel mengikuti reli aset berisiko setelah penurunan 25 bps pada Rabu.
Di sisi pasokan, dua kilang Rusia—Salavat dan Volgograd—menjadi sasaran serangan pada Kamis. Kilang Volgograd berkapasitas 300 ribu bph dilaporkan menghentikan operasi, memicu kekhawatiran pengetatan neraca global dan menekan arus petrodollar Moskow. Serangan beruntun membuat “refining runs” Rusia turun di bawah 5 juta bph—terendah sejak April 2022 (estimasi JPMorgan)—sementara UE menyiapkan paket sanksi baru dan AS memberi sinyal menunggu langkah Eropa.
Dari sisi makro, optimisme pelonggaran moneter mendukung sentimen, apalagi data pekerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan meredakan kekhawatiran atas komentar Jerome Powell sebelumnya. Namun, seperti dikatakan sejumlah analis, fokus pasar kembali ke sanksi dan geopolitik yang “menimpa” fundamental yang masih rapuh.
Di AS, stok distilat naik ke level tertinggi sejak Januari dan ekspor minyak mentah melonjak ke yang tertinggi sejak akhir 2023. Tarik-menarik antara risiko pasokan, spot market yang ketat, dan proyeksi surplus membuat harga tetap terjebak di rentang sempit—sekitar band $5 yang bertahan sejak awal Agustus—di tengah kembalinya pasokan OPEC+ dan dampak ekonomi dari tarif perdagangan AS.
Poin penting:
WTI +0,5% > $64; sentimen terbantu pemangkasan 25 bps The Fed.
Kilang Volgograd (±300 ribu bph) berhenti; runs Rusia
Sentimen risk-on vs fundamental rapuh: stok distilat AS naik, ekspor crude melonjak.
Harga masih range-bound di band $5 sejak awal Agustus; risiko geopolitik vs potensi surplus.
Sumber: Newsmaker.id