Minyak Melemah Lagi, Kekhawatiran Ekonomi & Oversupply Menekan
Harga minyak turun untuk sesi kedua pada Kamis. Brent berada di $67,69 per barel (-0,38%) dan WTI di $63,77 (-0,44%) pada 06:56 GMT. Penurunan berlanjut meski The Fed memangkas suku bunga 25 bps sesuai perkiraan, karena pasar lebih fokus pada risiko pelemahan ekonomi AS dan kelebihan pasokan.
Biasanya, biaya pinjaman yang lebih rendah mendorong permintaan energi. Namun, pelaku pasar menilai dua pemotongan tambahan tahun ini sudah masuk harga. Nada hati-hati Jerome Powell—menekankan pasar kerja yang melemah dan inflasi yang masih lengket—membuat pemangkasan ini lebih mirip “manajemen risiko” ketimbang pendorong permintaan.
Dari sisi fundamental, sinyal oversupply tetap membayangi. Data EIA menunjukkan persediaan minyak mentah AS anjlok tajam seiring impor bersih turun ke rekor rendah dan ekspor mendekati level tertinggi dua tahun. Namun, stok distilat justru naik 4 juta barel (vs ekspektasi +1 juta), memicu kekhawatiran permintaan bahan bakar yang lesu.
Analis menilai pesan The Fed mengisyaratkan risiko pengangguran kini lebih diperhatikan ketimbang inflasi. Kombinasi prospek ekonomi yang rapuh, dolar yang relatif kuat, serta pasokan yang longgar membuat reli minyak tertahan dalam jangka pendek.
Poin penting:
Brent $67,69 (-0,38%), WTI $63,77 (-0,44%); turun dua sesi beruntun.
The Fed potong 25 bps, tapi nada Powell hati-hati → sentimen rapuh.
EIA: stok crude turun tajam; impor bersih rekor rendah, ekspor mendekati puncak 2 tahun.
Stok distilat +4 juta barel (di atas ekspektasi) → sinyal permintaan lemah.
Kekhawatiran ekonomi AS & oversupply menekan prospek harga.(ads)
Sumber: Bloomberg.com