Brent Tersendat, Risiko Mengintai
Harga minyak melemah setelah reli tiga hari, karena pasar menimbang dampak serangan Ukraina ke infrastruktur energi Rusia dan keputusan suku bunga The Fed pada Rabu malam. Brent bertahan dekat $68 per barel setelah naik 3,2% dalam tiga sesi sebelumnya, sementara WTI mereda ke sekitar $64. Pergerakan kali ini lebih bernuansa “wait and see” jelang rilis kebijakan.
Di medan geopolitik, Ukraina kembali menyerang kilang Saratov, bagian dari rangkaian serangan yang menurut Goldman Sachs telah menekan produksi Rusia ke level terendah sejak pandemi. Pasar juga mewaspadai risiko eskalasi setelah insiden drone di Polandia. Kepala riset energi Standard Chartered, Emily Ashford, menyebut fokus utama kini pada aliran pasokan Rusia dan potensi meluasnya konflik.
Meski ada dorongan dari sisi geopolitik, kenaikan terakhir belum mampu mengeluarkan harga dari rentang sempit sekitar $5 yang bertahan lebih dari enam minggu. Prediksi kelebihan pasokan di akhir tahun meningkat seiring kembalinya suplai OPEC+ yang lebih cepat, sementara lonjakan pendapatan kapal tanker mengindikasikan output lebih tinggi.
Dari sisi makro, The Fed diperkirakan memotong suku bunga 25 bps—dan pasar bahkan sudah memasang tiga pemangkasan lagi hingga April. Ashford menilai 25 bps sudah “priced in”; kejutan 50 bps berpotensi memicu mode risk-on yang bisa mendukung harga komoditas. Arah dolar dan sentimen risiko pasca-keputusan akan menjadi penentu berikutnya bagi minyak.
Di AS, laporan industri menunjukkan persediaan minyak mentah turun 3,4 juta barel pekan lalu—jika dikonfirmasi data resmi, itu akan jadi penurunan terbesar dalam sebulan. Volatilitas tersirat kontrak Brent bulan kedua juga tetap jinak setelah jatuh ke level terendah lebih dari tiga minggu pada Senin. Pada 10:28 waktu London, Brent pengiriman November turun 0,7% ke $67,99 dan WTI Oktober turun 0,7% ke $64,08.(ayu)
Sumber: Bloomberg.com