Sebelum Powell Bicara: Minyak Sedikit Ambil Napas
Harga minyak tergelincir pada Selasa, menyerahkan sebagian kenaikan terakhir. Pada 04:50 ET (08:50 GMT), Brent kontrak November turun 0,5% ke $67,08/barel, sementara WTI melemah 0,5% ke $62,98/barel. Pergerakan ini lebih bernuansa konsolidasi setelah reli sepekan terakhir.
Fokus pasar tetap pada risiko pasokan dari perang Rusia–Ukraina setelah serangan ke fasilitas minyak Rusia. Di sisi kebijakan, Presiden AS Donald Trump mendorong sanksi “gelombang kedua” yang menarget pembeli besar seperti India dan Tiongkok, sementara Uni Eropa disebut mempertimbangkan sanksi pada perusahaan yang memfasilitasi perdagangan minyak Rusia. Jika diperketat, langkah-langkah ini bisa memperketat ekspor Rusia dan mengerek premi risiko pasokan.
Namun, sentimen kenaikan dibatasi oleh gambaran surplus pasokan ke depan: output OPEC yang meningkat, produksi kuat dari non-OPEC, dan pemulihan permintaan global yang rapuh termasuk China yang belum pulih penuh serta permintaan BBM AS yang cenderung melunak di musim dingin. Analis Bernstein memperingatkan risiko Brent ke $60 bila pasokan terus melampaui permintaan, dengan surplus global berpotensi mencapai 1,9 juta bph pada kuartal ini.
Dari sisi makro, pelemahan dolar membantu harga minyak belakangan ini, seiring ekspektasi The Fed memangkas 25 bps pada Rabu. Meski inflasi masih “lengket”, suku bunga lebih rendah berpotensi mendukung aktivitas ekonomi dan, pada akhirnya, permintaan minyak—tetapi arahnya sangat bergantung pada nada panduan The Fed.
Poin inti:
Brent $67,08 (-0,5%), WTI $62,98 (-0,5%) — konsolidasi pasca reli.
Risiko pasokan: serangan ke fasilitas Rusia & wacana sanksi tambahan (AS/UE).
Prospek fundamental: potensi surplus; risiko Brent ke $60 (surplus 1,9 juta bph).
Makro: dolar melemah; pasar menunggu Fed cut 25 bps dan sinyal lanjutan kebijakan.(ayu)
Sumber: Newsmaker.id