Kenaikan Minyak Dibebani Kekhawatiran Permintaan AS
Harga minyak dunia menguat pada Jumat (12/9) pasca serangan drone Ukraina menghentikan aktivitas pengiriman di pelabuhan minyak utama Rusia, Primorsk.
Kontrak berjangka minyak Brent ditutup naik 62 sen atau 0,93% ke $66,99 per barel, sedangkan WTI AS menguat 32 sen atau 0,51% menjadi $62,69 per barel.
Sementara analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia berpotensi menekan ekspor minyak mentah dan produk olahannya.
Namun, kenaikan harga tersebut mengecil seiring fokus pasar kembali ke data ekonomi AS yang kurang mendukung. Laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan revisi besar yang memangkas 911 ribu pekerjaan dari periode 12 bulan terakhir, sementara inflasi konsumen melonjak 0,4% pada Agustus—kenaikan bulanan tertinggi sejak Januari. John Kilduff dari Again Capital menilai kondisi ini menambah beban bearish pada tren harga minyak, karena kekhawatiran permintaan energi di AS semakin besar.
Selain faktor ekonomi, pasar juga memantau kemungkinan sanksi baru dari pemerintahan Trump terhadap pembeli utama minyak Rusia, termasuk India dan China.
Di sisi lain, laporan terbaru IEA menegaskan pasokan global tahun ini akan naik lebih cepat dari perkiraan karena peningkatan produksi dari OPEC+ dan sekutunya. Kombinasi potensi surplus pasokan dan lemahnya prospek permintaan menjadi penahan utama reli harga minyak meskipun ada risiko geopolitik.(yds)
Sumber: Reuters