Minyak Naik Pasca Serangan Israel, tapi Oversupply Tahan Kenaikan
Harga minyak naik pada Rabu (10/9) setelah Israel menyerang pimpinan Hamas di Qatar, Polandia menembak jatuh drone, dan AS dorong sanksi baru buat pembeli minyak Rusia. Tapi kekhawatiran soal kelebihan pasokan bikin kenaikannya ketahan.
Kontrak berjangka Brent naik $0,63 (0,95%) ke $67,02/barel, sementara WTI AS naik $0,65 (1,04%) ke $63,28/barel. Sehari sebelumnya, harga sudah tutup +0,6% usai Israel bilang menyerang pimpinan Hamas di Doha. Dua benchmark ini sempat melonjak hampir 2% tak lama setelah kabar serangan, tapi kemudian kehilangan sebagian besar kenaikannya.
Di tempat lain, tensi geopolitik ikut naik ketika Polandia menembak jatuh drone saat serangan besar-besaran Rusia di Ukraina barat, menandai pertama kalinya anggota NATO ikut melepaskan tembakan di perang tersebut.
Meski begitu, belum ada ancaman langsung ke pasokan. Kata analis SEB, “Awan gelap surplus ke depan masih ngegantung di pasar; Brent sekarang dua dolar lebih rendah dibanding Selasa lalu. Premi risiko geopolitik jarang tahan lama kecuali ada gangguan pasokan beneran.”
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mendorong Uni Eropa buat kasih tarif 100% ke China dan India sebagai strategi menekan Presiden Rusia Vladimir Putin. China dan India adalah pembeli besar minyak Rusia yang bantu isi kas Moskow sejak invasi 2022.
Menurut analis LSEG, masih ada ketidakpastian seberapa jauh kebijakan itu bakal jalan, karena langkah agresif bisa bertabrakan dengan upaya ngatur inflasi dan dorong The Fed turunin suku bunga.
Sementara para pelaku pasar nunjukin ekspektasi The Fed bakal cut rate di meeting 16–17 September, yang bisa nyokong aktivitas ekonomi dan permintaan minyak.(yds)
Sumber: Reuters