Minyak Naik, Pasar Waspadai Tarif Trump & Serangan Doha
Harga minyak naik untuk sesi ketiga berturut-turut pada Rabu(10/9), seiring investor menimbang ancaman tarif terbaru Presiden AS Donald Trump terhadap pembeli minyak Rusia dan dampak potensial dari serangan Israel di Doha yang menargetkan pimpinan Hamas. Brent naik mendekati $67 per barel setelah ditutup 0,6% lebih tinggi pada Selasa, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran $63 per barel.
Trump mengatakan kepada pejabat Uni Eropa bahwa ia siap memberlakukan tarif baru terhadap India dan China guna menekan Rusia agar mau bernegosiasi dengan Ukraina — namun hanya jika negara-negara UE ikut serta. Usulan ini menjadi tantangan karena beberapa negara seperti Hungaria menolak sanksi energi yang lebih ketat terhadap Rusia. AS sudah mengenakan bea masuk ke India atas perdagangannya dengan Moskow, tetapi sejauh ini masih mengecualikan China.
Meskipun Brent masih turun sekitar 10% sepanjang tahun ini akibat ekspektasi surplus pasokan di akhir 2025, serangan Israel ke ibu kota Qatar kembali memicu kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah, kawasan yang menyumbang sekitar sepertiga pasokan minyak global. Serangan ini adalah yang pertama dilakukan Israel di Doha sejak konflik hampir dua tahun lalu dimulai, dan berpotensi menggagalkan upaya perdamaian yang dipimpin AS.
Namun, lonjakan harga belum signifikan. Prompt spread Brent — selisih antara dua kontrak terdekat — menyempit menjadi 31 sen per barel, dibandingkan lebih dari $1 dua bulan lalu, menunjukkan pasar bersiap menghadapi tambahan pasokan. Laporan pemerintah AS pada Selasa juga menegaskan surplus pasokan sudah mulai terjadi dengan proyeksi peningkatan persediaan pada kuartal ini. Sementara itu, OPEC+ telah sepakat menambah pasokan bulan depan, meski dalam jumlah yang relatif moderat. (az)
Sumber: Bloomberg