Minyak Menguat Pasca Ancaman Trump Ke Pembeli Minyak Rusia
Harga minyak rebound pada hari Rabu (8/9) dari posisi terendah lima minggu di sesi sebelumnya, seiring para trader memusatkan perhatian pada ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap India terkait pembelian minyak mentah Rusia, serta penurunan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan.
Kontrak berjangka minyak Brent naik $1,13 atau 1,67% menjadi $68,77 per barel pada pukul 13.38 GMT, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik $1,16 atau 1,78% menjadi $66,32 per barel.
Kedua kontrak minyak tersebut sebelumnya turun lebih dari $1 pada hari Selasa, berakhir di level terendah dalam lima minggu, menandai sesi penurunan keempat berturut-turut.
“Harga kembali naik karena potensi tarif impor yang lebih tinggi terhadap India, namun pasar masih menunggu implementasi formal dan sektor mana saja yang akan terdampak,” kata analis Rystad, Janiv Shah.
Trump kembali mengancam akan mengenakan tarif impor yang lebih tinggi terhadap barang-barang dari India karena negara tersebut membeli energi dari Rusia. India, bersama dengan China, merupakan pembeli utama minyak Rusia.
“Ada ekspektasi bahwa India mungkin akan mengurangi pembelian minyak mentah Rusia, namun saya rasa mereka tidak akan menghentikannya sepenuhnya karena mereka meraih keuntungan besar dari membeli minyak Rusia dengan harga murah,” kata Ashley Kelty, analis di Panmure Liberum.
Utusan AS, Steve Witkoff, tiba di Moskow pada hari Rabu dalam misi mendesak untuk mencari terobosan dalam perang Ukraina, dua hari sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Trump agar Rusia menyetujui perdamaian atau menghadapi sanksi baru.
Menurut Shah dari Rystad, meskipun pertemuan itu mungkin menghasilkan beberapa konsesi, peningkatan pasokan yang direncanakan oleh kelompok OPEC+ akan mengimbangi potensi penurunan pasokan minyak Rusia.
Pasar juga mendapat dukungan dari penurunan stok minyak mentah AS minggu lalu, menurut analis. Sumber yang mengutip data American Petroleum Institute pada hari Selasa mengatakan bahwa persediaan turun sebesar 4,2 juta barel.
Angka ini jauh di bawah estimasi jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan hanya sebesar 600.000 barel untuk minggu yang berakhir pada 1 Agustus.(yds)
Sumber: Reuters