Minyak Menguat, AS Siapkan Tekanan Ekonomi Baru untuk Iran
Harga minyak kembali menguat setelah Amerika Serikat mengancam akan menerapkan sejumlah langkah ekonomi baru terhadap Iran. Tekanan tersebut dilakukan untuk memaksa Teheran membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi global.
Brent pada perdagangan Jumat, (14/8) mendekati US$88 per barel setelah turun 2,2% pada sesi sebelumnya, sementara West Texas Intermediate atau WTI bergerak di sekitar US$82 per barel. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington akan memberikan tekanan ekonomi besar terhadap Iran, sembari tetap melanjutkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran.
Harga minyak masih berada di jalur kenaikan mingguan dan telah menguat lebih dari 40% sepanjang tahun ini, seiring perang yang dimulai pada akhir Februari masih berlanjut. International Energy Agency juga memperkirakan defisit pasokan pada kuartal ini akan semakin dalam, bahkan defisit 2026 diproyeksikan menjadi yang terlebar dalam lima tahun.
Iran masih melakukan pembicaraan dengan Oman terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, tetapi belum ada kesepakatan meski sempat muncul optimisme pada awal pekan. Ketegangan semakin tinggi karena sikap Washington dan Teheran kembali mengeras, sementara Presiden Donald Trump mengajukan tuntutan baru yang lebih luas.
Dari sisi dampak market, minyak berpotensi tetap bergerak volatil selama belum ada kepastian pembukaan Hormuz dan seArangan terhadap kapal masih terjadi. Brent diperkirakan tetap bergerak dalam rentang US$80–US$90 per barel sampai ada perkembangan besar baru. Jika tekanan AS membuat Iran melunak, harga minyak bisa terkoreksi; tetapi jika konflik melebar atau pasokan Teluk makin terganggu, premi risiko dapat kembali mendorong Brent dan WTI lebih tinggi. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id