Minyak Naik Enam Hari, Brent Mulai Dekati US$90
Harga minyak kembali menguat untuk hari keenam berturut-turut pada perdagangan Rabu(12/8) karena pasar masih meragukan tercapainya kesepakatan yang dapat memulihkan arus energi melalui Selat Hormuz. Brent bergerak mendekati US$90 per barel setelah melonjak sekitar 12% dalam lima sesi sebelumnya, sementara WTI bertahan di atas US$84.
Pergerakan minyak masih sangat sensitif terhadap perkembangan negosiasi AS-Iran. Optimisme sempat muncul setelah Menteri Pertahanan Pakistan mengatakan Washington dan Teheran mulai mendekati suatu bentuk kesepakatan, sementara pembicaraan Iran-Oman terkait Hormuz disebut telah mencapai tahap lanjut. Namun, belum ada kepastian bahwa kesepakatan tersebut akan segera mengembalikan lalu lintas energi ke kondisi normal.
Ketidakpastian meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Amerika Serikat “sepenuhnya menguasai” Hormuz dan menegaskan bahwa dirinya tidak memercayai Iran. Pernyataan tersebut datang setelah Trump mengajukan tuntutan baru kepada Teheran, sementara Iran tetap meminta kompensasi sebagai bagian dari pembicaraan untuk mengakhiri konflik.
Pasar juga menghadapi risiko pasokan yang semakin besar. EIA memperkirakan gangguan produksi minyak akibat konflik Iran dapat mencapai sekitar 600.000 barel per hari hingga akhir 2027. Lalu lintas kapal melalui Hormuz masih sangat terbatas, sementara ketegangan juga meluas ke Laut Merah melalui serangan kelompok Houthi terhadap pelayaran dan infrastruktur energi.
Di sisi lain, data industri menunjukkan persediaan minyak mentah AS berpotensi meningkat sekitar 9,1 juta barel pada pekan lalu. Jika dikonfirmasi oleh data resmi, kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak Februari dan dapat memberikan tekanan jangka pendek terhadap harga. Investor juga menunggu laporan bulanan dari IEA dan OPEC untuk melihat kondisi pasokan serta permintaan global.
Analisis Newsmaker: Reli enam hari menunjukkan pasar masih memberikan premi risiko besar terhadap ketidakpastian Hormuz. Selama arus energi belum kembali normal, Brent berpeluang mempertahankan momentum menuju US$90–US$100 per barel. Namun, kenaikan besar cadangan minyak AS atau munculnya kesepakatan konkret AS-Iran dapat memicu profit taking. Kenaikan minyak yang berlanjut juga berpotensi meningkatkan risiko inflasi dan kembali memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed.(gn)
Sumber: Newsmaker.id